Kamis, 29 September 2011

Tentang Khalil Gibran



Gibran
SANG PUJAAN

Dialah yang disanjung-sanjung sampai
gila.
Dialah pengkhayal yang menulis
untuk menghancurkan moral kaum
muda.
Andaikan kaum lelaki dan perempuan
yang sudah beristeri/bersuami
mengikuti pendapat-pendapat Gibran
dalam hal perkawinan maka akan
goyahlah sendi-sendi keluarga dan
Sang Pujaan I 7
akan tesengal-sengallah dasar-dasar
kehidupan masyarakat dan jadilah
alam ini dan penduduknya semuanya
sebagai syetan-syetan.
Waspadalah akan gaya tulisan
Gibran yang indah memukau karena
itu sebagian dari musuh-musuh kehidupan
manusia.
Gibran adalah perusuh bagi
atheis dan kita menasehati penduduk
gunung yang diberkati agar mereka
membuang ajaran-ajarannya dan
membakar karangan-karangannya
sehingga ajaran-ajaran dan karangankarangannya
itu tidak ada yang menempel
dalam jiwa mereka.
Kita telah membaca karyanya
“Sayap-sayap Patah” dan kita menemukan
bahwa karyanya itu adalah
racun dalam debu.
***
itulah sebagian yang dikatakan
orang-orang tentang diriku dan mereka
benar, karena aku suka berbuat
8 | Kahlil Gibran
berlebih-lebihan sampai gila, aku suka
kehancuran namun aku suka membangun,
dan di dalam hatiku ada kebencian
yang belum disucikan oleh
orang-orang dan ada cinta yang belum
luruskan oleh orang-orang, dan
andaikan memungkinkan bagiku
mempertemukan adat-istiadat, prinsip-
prinsip utama dan kebiasaan-kebiasaan
manusia maka pastilah itu
akan meragukan. Adapun sebagian
manusia mengatakan bahwa rulisantulisanku
adalah racun dalam debu.
Pernyataan itu menjelaskan hakekat,
dari balik cadar yang tebal, bahwa
hakekat itu telanjang, murni, yang itu
sesungguhnya aku tidak mencampurkan
racun dalam debu tetapi aku
memisahkannya dan mencerai-beraikannya
… Kecuali seorang budak
yang menilai bahwa aku menuangkannya
ke dalam gelas-gelas yang bersih
lagi bening.
Adapun orang-orang yang me-
Sang Pujaan | 9
nyanggah tentang aku di depan diri
mereka, mereka berkata: Dia itu
pengkhayal yang berenang sambil
mengepak-ngepakkan sayapnya di
antara awan-awan yang hitam menuju
kilat-kilat gelas-gelas yang bening
lalu ia tinggalkan apa yang ada di
dalam gelas itu berupa minuman yang
mereka anggap sebagai racun karena
lambung mereka yang lemah tidak
mampu mencerna minuman itu.
Sesungguhnya keluguan ini menunjukkan
sikap tebal muka, akan tetapi
bukankah tebal muka itu dengan segala
kekasarannya itu lebih baik dari
pada sikap khiyanat dengan segala
kenikmatannya? Sesungguhnya tebal
muka itu menampakkan dirinya dengan
dirinya, adapun sikap khiyanat
itu mengenakan pakaian yang bukan
miliknya.
***
Kaum yang suka tertawa-tawa
itu meminta Gibran untuk menjadi
10 I Kahlil Gibran
lebah yang terbang berputar-putar di
taman-taman bunga mengumpulkan
madu bunga untuk dijadikan sarang
madu.
Kaum yang suka tertawa-tawa itu
menyukai madu sementara mereka
tidak bisa berbuat baik kecuali hanya
makan saja. Dan madu hanya
mencair di depan api dan tidak membeku
kecuali bila diletakkan di atas
es.
Kaum yang suka tertawa-tawa itu
juga meminta Sang Penyair -Gibranuntuk
membakar sendiri dupa di
depan sultan-sultan mereka, hakimhakim
mereka dan kepala-kepala uskup
mereka, sementara angkasa timur
telah menjadi kusut disebabkan oleh
asap dupa-dupa yang keluar membubung
dari samping kamar pengantin,
altar-altar dan kubur-kubur, akan
tetapi mereka tidak merasa cukup. Di
dalam hari-hari kami para pemuja itu
tunduk kepada al-Mutanabbi, para
Sang Pujaan | 11
pengagum menyerupakan dengan al-
Khansak dan tukang-tukang jiplak itu
lebih cantik dari Shafiyuddin al Halli.
Kaum yang suka tertawa-tawa itu
meminta orang ‘alim untuk meneliti
sejarah bapak-bapak dan kakek-kakek
mereka, mendalami peninggalan-peninggalan
mereka, adat istiadat mereka
dan kebiasaan mereka sambil menguraikan
hari-hari dan malam-malam
mereka di antara lipatan-lipatan bahasa
mereka, runtutan kata-kata
mereka dan keindahan bahasa mereka.
Dan orang-orang yang suka tertawa
meminta pemikir untuk membiasakan
pendengaran mereka atas apa
yang dikatakan oleh Baidaba’, Ibnu
Rusyd, Afran al-Suryani dan Yuhna
al-Damsyiqi dan untuk tidak melanggar
dalam tulisannya batas-batas
nasehat yang dungu dan petunjuk
yang sakit serta apa yang muncul di
antara keduanya berupa hukum dan
12 | Kahlil Gibran
ayat-ayat yang jika seseorang tidak
berjalan di atasnya maka hidupnya
seperti rumput-rumput kecil yang
tumbuh di bawah bayang-bayang dan
jiwanya seperti air hangat yang tercampur
dengan sedikit candu.
Pendek kata kaum yang suka tertawa-
tawa itu hidup dalam panggungpanggung
sandiwara termpo dulu dan
mereka cenderung kepada hal-hal sepele
yang menghibur, yang membuat
orang terkagum-kagum dan mereka
membenci ajaran-ajaran kebaikan dan
ajaran-ajaran terbaik yang menyilaukan
mereka dan mengagetkan mereka
dari tidur mereka yang diselimuti
oleh mimpi-mimpi yang meninabobokkan.
***
Sesungguhnya kaum yang suka
tertawa-tawa itu sakit yang ditimpa
penyakit dan secara berganti-ganti
diserang wabah sehingga sakitnya itu
menjadi kebiasaan, kepedihan terben-
Sang Pujaan | 13
tuk dan jadilah nasib dan kesakitannya
itu nampak seperti sifat-sifat
alamiyah abhkan seperti teman karib
yang baik, yang menemani roh-roh
suci dan jasad-jasad sehat, karena itu
barang siapa yang tidak punya sifatsifat
yang sakit itu ia dianggap kurang
waras lagi terlarang untuk memperoleh
hadiah-hadiah dan kesempurnaan
yang mulia.
Tabib-tabib kaum yang suka tertawa
itu banyak, mereka selalu berkutat
pada kesibukan mereka dan selalu
bermusyawarah dalam urusan-urusan
mereka, akan tetapi mereka tidak
mau mengoabti dengan selain canducandu,
bius-bius waktu yang memperpanjang
masa sakit sehingga tidak
tersembuhkan.
Adapun bius-bius maknawi itu
banyak sekali macamnya, beragam
bentuknya dan warna-warnanya.
Dan sebagian bius-bius maknawi itu
terlahir dari sebagian bius-bius mak-
14 I Kahlil Gibran
nawi yang lain sama seperti bergilirnya
penyakit-pemyakit dan orang-orang
sakit, sebagian menggantikan sebagian
yang lain. Dan setiap kali di kalangan
kaum yang suka tertawa-tawa
itu muncul orang sakit baru maka
tabib-tabib kaum yang suka tertawa
itu memberi untuk si sakit yang baru
itu bius-bius baru.
Adapun sebab-sebab yang dapat
memperlambat terwujudnya bius-bius
baru itu adalah banyak jumlahnya,
yang pokok adalah menyerahkan si
sakit itu kepada falsafah alam raya
dan qadar, kepada lemahnya hati
tabib-tabib dan ketakutan mereka
yang membangkitkan rasa sakit yang
ditimbulkan oleh obat-obat yang mujarab.
Dan kepada kalian kami tunjukkan
sebagian bius-bius itu dan penenang-
penenang itu yang dijadikan
oleh tabib-tabib kaum yang suka tertawa-
tawa untuk merawat orang-orang
Sang Pujaan I 15
sakit yang mengeluarga, yang menegara
dan yang mengagama:
Suami lari dan isterinya, perempuan
lari dari kekasihnya karena
adanya sebab-sebab yang mendasar
karena itu mereka saling memusuhi,
saling memukul dan aling menjauhi,
akan tetapi itu tidak berlangsung lebih
dari sehari semalam sampai keluarga
suami dan keluarga isteri berkumpul
dan bertukar pikiran yang diperindah
dengan ucapan-ucapan dan
kata-kata manis kemudian mereka
bersepakat untuk mendamaikan pasangan
suami-isteri itu, lalu mereka
mendatangi isteri itu merayunya untuk
meluluhkan emosinya dengan
nasehat-nasehat gombal yang membingungkannya
dan tidak memuaskannya,
kemudian mereka memanggil
si suami itu dan membanjiri kepalanya
dengan pendapat-pendapat
dan perumpamaan-perumpaan yang
dipoles dengan hal-hal indah yang bisa
16 l Kahlil Gibran
melunakkan pikirannya tetapi tetap
tidak bisa merubahnya. Dan demikianlah
terbentuknya perdamaian —
perdamaian sementara— di antara
pasangan suami isteri yang berselisih
itu yang karena ikatan batin berusaha
mencapai keinginan mereka berupa
ketentraman di bawah satu atap
dengan sekuat tenaga sampai luapan
emosi itu menjadi tenang dan hilanglah
pengaruh bius itu yang telah
dipergunakan oleh keluarga dan handai
taolan itu, namun itu tidak akan
berlangsung lama karena suami itu
akan menampakkan kembali rasa
permusuhannya dan kebenciannya
dan begitu pula si isteri itu akan
kembali menghilangkan kain cadar
kemarahannya. Hal yang bisa dilakukan
oleh orang-orang yang ingin
mewujudkan perdamaian antara
pasanag suami isteri itu, adalah menjadikan
perdamaian itu sebagai yang
kedua. Barang siapa memandang
Sang Pujaan | 17
baik untuk meneguk bius-bius maka
dia tidak akan sudi meminum gelas
yang berisi air biasa.
Suatu kaum mengangkangi pemerintahan
yang berkuasa atau mengangkangi
suatu tata aturan lama,
lalu membuat kelompok pembaharu
yang mengajak kepada pembaharuan
dan kebebasan, karena itu mereka
berkhutbah dengan gagah berani,
menulis selebaran-selebaran, menyebarkan
maklumat-maklumat, rencana-
rencana kerja dan mengangkat
wakil yang ideal, akan tetapi itu tidak
akan berlangsung lebih sebulan atau
dua bulan samapai akhirnya kita mendengar
bahwa pemerintah telah memenjarakan
ketua kelompok pembaharu
itu atau menjanjikan untuknya
suatu kedudukan. Adapun kelomok
pembaharuan itu tidak terdengar lagi
kabar beritanya karena orang-orangnya
telah meneguk sedikit bius-bius
itu dan mereka kembali kepada ke-
18 | Kahlil Gibran
tenangan dan kepasrahan diri.
Suatu kelompok umat agama bersikap
angkuh kepada pemimpin agamanya
dikarenakan adanya hal-hal
yang mendasar, karena itu umat
mengkritik kepribadiannya, menyanggah
perbuatan-perbuatannya dan
jemu dengan apa-apa yang datang
darinya.kemudian mereka menggertaknya
dengan mendrikan aliran yang
lain yanglebih dekat kepada akal dan
jauh dari hal-hal yang meragukan dan
khurafat-khurafat. Akan tetapi itu tidak
berlangsung lama sampai akhirnya
kita mendengar bahwa kaum rasionalis
negeri itu telah menghilangkan
perbedaan antara pemimpin dan
umatnya dan berkat bius-bius yang
menyihir mereka telah mengembalikan
citra pemimpin agama itu dan
ketaatan buta kepada jiwa-jiwa yang
suka sok lagi durhaka!
Orang yang kalah dan lemah
mengadukan kelaliman orang dhalim
Sang Pujaan | 19
20 | Kahlil Gibran
yang kuat, lalu tetangganya berkata
kepadanya: Diamlah karena mata
yang melawan anak panah dengan
sembarangan pasti akan terjungkal.
Orang desa meragukan akan ketakwaan
dan ketulusan hati para rahib,
lalu temannya berkata kepadanya:
Diamlah karena telah tertulis
dalam al-kitab: Dengarkanlah ucapanucapan
para rahib itu dan janganlah
kamu melakukan perbuatan-perbuatan
mereka.
Seorang murid menentang penetapan
atas penelitian orang-orang
Basrah dan Kuffah dalambidang bahasa,
lalu gurunya berkata kepadanya:
Seungguhnya orang-orang pemalas
dan yang suka berlambat-lambat
itu mereka suka mereka-reka alasan
untuk diri mereka dengan yang
lebih buruk dari dosa.
Seorang anak kecil tidak mau
mengikuti adat kebiasaan orang-orang
tua, lalu ibunya berkata kepadanya:
Anak itu tidak lebih utama dari pada
ibunya karena itu jalan yang ditempuhnya
harus kamu tempuh pula.
Seorang pemuda mempertanyakan
makna-makna batasan-batasan
agama, lalu seorang dukun berkata
kepadanya: Barang siapa yang tidak
melihat dengan kaca mata iman maka
ia tidak akan melihat alam ini kecuali
kabut putih dan asap.
Dan demikianlah waktu terus berjalan
sepanjang masa dan kaum yang
suka tertawa-tawa itu berbaring di
atas kasurnya yang empuk, mereka
bangun sesaat ketika dikejutkan oleh
nyamuk kemudian ia kembali terlelap
karena pengaruh bius-bius yang
telah menyatu dalam darahnya dan
mengalir dalam keringatnya, karena
itu jika seseorang yang terkena bius
itu bangun, maka ia akan meneriaki
orang-orang yang tidur, memenuhi
ruma-rumah mereka, tempat-tempat
ibadah mereka dan tempat persidang-
Sang Pujaan | 21
an mereka dengan suara-suara ribut.
Dan mereka membuka sayap-sayap
mereka dengan rasa mengantuk yang
abadi kemudian mereka berkata sambil
menguap: Betapa mengesalkannya
seorang pemuda yang tidur dan tidak
membiarkan orang-orang tidur! Kemudian
mereka menutup mata mereka
dan membisikkan ke dalam telinga
roh-roh mereka: Pemuda itu kafir
lagi atheis, merusak moral kawula
muda, merobohkan bangunan generasi
bangsa-bangsa dan menusuk
umat manusia dengan panah beracun.
Beberapa kali aku bertanya kepada
diriku apakah jika aku menjadi
salah satu dari orang-orang yang terjaga,
yang bersikap sewenang-wenang
terhadap orang-orang yang menolak
meminum bius-bius dan penenang,
maka diriku akan memberi jawaban
kepadaku dengan kata-kata yang
tidak jelas. Akan tetapi aku belum
22 | Kahlil Gibran
pernah mendengar orang-orang mengkafirkan
namaku dan mengatakan cih
atas prinsip-prinsip dasarku yang aku
yakini dengan sepenuh kesadaranku
dan aku tahu bahwa aku bukanlah
termasuk orang-orang yang menyerahkan
diri kepada mimpi-mimpi indah
dan khayalan-khayalan yang
menyenangkan, bahkan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang suka
menyendiri —bersikap eksklusive—
dengan kehidupan yang membuat
mereka berjalan di atas jalan-jalan
sempit yang ditanami duri-duri dan
bunga-bunga lagi dikelilingi serigala
buas dan burung-burung bulbul yang
selalu berkicau.
Dan andaikan kesadaran itu sebuah
anugerah maka kekuatanku
akan melarangku untuk menuntut
memilkinya, aka tetapi anugerah itu
bukanlah anugerah melainkan hakekat
asing yang nampak di depan kehampaan
orang-orang yang takut
Sang Pujaan I 23
sendirian dan berjalan di depan mereka.
Kemudian mereka mengikutinya
dan menuruti keinginan mereka yang
tertarik oleh kawat-kawat mereka
yang tersembunyi dan mereka berputar-
putar menuju maknanya yang
melenceng.
Dan bagiku, bahwasannya tidak
mau menerima atas munculnya kenyataan-
kenyataan pribadi adalah
semacam sikap angkuh yang tak terlihat
yang di kalangan kaum yang
suka tertawa-tawa dikenal dengan
sebutan tahdzib —mendidik.
***
Besok para sastrawan dan sekaligus
para pemikir akan membaca apa
yang telah ada lebih dulu, lalu kaum
yang suka berkeluh kesah berkata:
Sastrawan itu adalah orang yang tersisihkan
yang melihat kehidupan dari
sisi yang gelapnya saja, karena itu
mereka tidak melihat kecuali kegelapan
saja, dan pasti mereka berdiri di
24 | Kahlil Gibran
antara kita memanggil-manggil,
menangisi kita sambil mentertawai
keadaan kita.
Karena itu untuk para sastrawan
sekaligus para pemikir itu aku akan
berkata: Aku akan memuji-muji kaum
yang suka tertawa-tawa, karena menari-
nari di depan usungan mayat itu
adalah kegilaan yang bermartabat lagi
benar.
Aku menangisi kaum yang suka
tertawa-tawa karena tertawa atas orangorang
yang sakit itu adalah kedunguan
yang berlipat-lipat.
Aku meratapi negeri tercinta,
karena bernyanyi di depan orang yang
tertimpa musibah itu adalah ketololan
yang buta.
Aku berlebihan dan tersingkirkan
karena aku orang yang menegakkan
cahaya kebenaran yang itu menjelaskan
separo kebenaran dan menyisakan
separo kebenaran yang lain dalam
keadaan tertutupi di balik ketakutan-
Sang Pujaan I 25
26 | Kahlil Gibran
nya akan prasangka-prasangka orangorang
dan ocehan-ocehan mereka.
Aku melihat rongga yang merintih
kesakitan, karena itu jiwaku gemetaran,
isi perutku terasa mual dan aku
tidak bisa duduk di depannya, sedangkan
di sebelah kananku ada segelas
minuman lezat, dan disebelah kiriku
ada sepotong manisan harum.
Dan andaikan ada orang yang
ingin mengganti ratapanku dengan
tertawa, merubah rasa gemetaranku
menjadi keteguhan hati, dan menggantikan
ketersisihanku dengan keadilan
maka orang itu hams menjadikan
aku di antara orang-orang yang tertawa
itu sebagai hakim yang adil, ahli
syari’at yang bertanggung jawab,
menjadikan aku sebagai pemimpin
agama yang berbuat dengan apa yang
ia ketahui dan menjadikan aku sebagai
suami yang bisa memandang isterinya
dengan mata yang dengan mata
itu ia bisa melihat dirinya.
Jika di sana ada orang ingin menyaksikan
aku menari, mendengarkan
aku memukul kendang dan meniup
seruling maka orang itu harus mengundang
aku ke rumah pengantin lelaki
dan bukannya membuatku berdiri
di antara kubur-kubur sunyi.***
Sang Pujaan I 27
Dirundung Sunyi
Wahai teman sebayaku, jika engkau
mengingat awal masa mudamu dengan
kegembiraan dan menyesalinya karena
ia telah berlalu. Namun aku mengingatnya
seperti seorang narapidana
yang dipanggil kembali oleh jeruji dan
belenggu penjaranya. Engkau menganggap
tahun-tahun antara masa kecil
dan masa muda sebagai masa kejayaan
yang bebas dari kurungan dan
28 | Kahlil Gibran
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
kesusahan. Namun aku menyebut
tahun-tahun tersebut sebagai kesunyian
yang menyedihkan yang jatuh seperti
benih yang masuk dan tumbuh
di hatiku dan tidak dapat menemukan
jalan keluar menuju dunia pengetahuan
dan kebijaksanaan. Sampai
akhirnya cinta hadir dan membuka
pintu hatiku dan menyinari sudutsudutnya.
Cinta memberiku sebuah
lidah dan air mata. Orang-orang mengingat
kebun-kebun, anggrek-anggrek,
tempat-tempat pertemuan, pojok-pojok
jalanan yang menyaksikan permainanmu
dan mendengarkan bisikanmu
yang lugu.
Aku juga mengingat tentang sebuah
tempat yang indah di Lebanon
Utara. Tiap kali kututup mataku, aku
melihat lembah-lembah itu penuh
dengan sihir dan ambisi, gunung-gunung
yang tertutup oleh kemuliaan
dan kebesaran itu berusaha untuk
meraih langit. Tiap kali aku menutup
Sang Pujaan | 29
telingaku dari kebisingan kota, aku
mendengar gemericik air sungai dan
gemerisik dahan-dahan. Semua keindahan-
keindahan itu -yang kubicarakan
sekarang dan kuamati seperti
seorang anak kecil yang terpisah
dari susu ibunya— melukai jiwaku. la
memenjarakanku dalam kegelapan
masa muda seperti seekor burung
elang yang ada di dalam sangkar ketika
ia melihat kawanan burung terbang
bebas di langit yang luas. Lembah-
lembah dan bukit-bukit itu membakar
imajinasiku namun pikiran-pikiran
pahit menghalangi hatiku dengan
jaring tanpa harapan.
Tiap kali aku pergi ke ladang, tiap
itu pula aku kembali dengan kecewa
tanpa mengerti apa yang memicu
kekecewaanku. Tiap kali aku memandangi
langit yang kelabu aku merasa
hatiku menciut. Tiap kali aku mendengar
nyanyian burung dan celoteh
musim semi aku terluka tanpa menger-
30 | Kahlil Gibran
ti penyebab penderitaanku. Orang bilang,
bahwa pengalaman membuat
seseorang kosong dan kekosongan
membuatnya tanpa beban. Mungkin
itu benar bagi orang-orang yang dilahirkan
dalam keadaan meninggal dan
orang-orang yang hidup seperti mayat
yang dingin. Tapi seorang pemuda
sensitif itu lebih banyak merasa dan
sedikit mengetahui. la merupakan
makhluk paling sial yang ada di bawah
matahari. Karena ia dikoyak oleh dua
kekuatan. Kekuatan pertama mengangkat
dan menunjukkanmu keindahan
hidup melalui awan mimpi-mimpi.
Sementara kekuatan kedua akaa
menjatuhkanmu ke dalam bumi, memenuhi
matamu dengan debu dan
menyergapmu dengan ketakutan dan
kegelapan.
Kesunyian itu memiliki kelembutan
dan tangan-tangan sutera. Namun
dengan jari-jari yang kuat ia menggenggam
hati itu dan membuatnya
Sang Pujaan | 31
sakit dengan kesepian. Kesunyian adalah
teman kesepian sebagaimana sahabat
kegembiraan spiritual.
Jiwa pemuda yang mengalami
kesepian seperti Lili putih yang tak
terangkai. la bergetar di hadapan angin
sepoi-sepoi yang berhembus, terbuka
hatinya di siang hari dan mengatup
kembali daun-daunnya saat bayangan
malam datang. Jika pemuda ini tidak
memiliki hiburan, sahabat atau teman
dalam permainannya maka hidupnya
akan seperti penjara yang sempit. Di
sana tidak ada yang dapat dilihatnya
kecuali sarang laba-laba. la tak akan
mendengar apa pun kecuali rayapan
serangga-serangga.
Kesepian yang membuatku terobsesi
selama masa mudaku bukan disebabkan
oleh kekurangan hiburan,
karena aku menikmatinya. Bukan juga
diakibatkan oleh kekurangan teman,
karena aku telah menemukannya.
Namun kesepian itu disebabkan oleh
32 | Kahlil Gibran
sebuah penyakit batin yang ringan
yang membuatku mencintai kesunyian.
la membunuh kesenanganku pada
permainan dan hiburan. la memindahkan
sayap masa mudaku dari
bahuku. la membuatku seperti satu
pon air di antara gunung-gunung yang
dalam permukaan tenangnya yang
menampakkan bayang-bayang hantu
dan warna-warna awan-awan dan
pohon-pohon. Namun aku tak bisa
menemukan sebuah jalan keluar untuk
menuju samudera.
Itulah kehidupanku sebelum aku
berusia delapan belas tahun. Tahun
tersebut seperti puncak gunung dalam
hidupku. Karena ia membangunkan
pengetahuan tentang diriku dan membuatku
mengerti tentang perubahan
manusia. Di tahun tersebut aku dilahirkan
kembali dan jika seseorang
tidak dilahirkan lagi maka sisa hidupnya
akan seperti lembaran kosong
dalam buku kehidupan. Di tahun
Sang Pujaan I 33
tersebut aku melihat malaikat-malaikat
surga memandangku melalui sepasang
mata seorang perempuan cantik.
Aku juga melihat setan-setan dari
neraka mengamuk dalam hati seorang
manusia jahat, yang tidak melihat
malaikat-malaikat dan setan-setan
dalam kecantikan dan kebencian
hidup yang akan jauh bergeser dari
pengetahuan. Dan semangatnya akan
jauh dari kasih sayang.***
34 | Kahlil Gibran
Ditelan Nestapa
Suatu hari Farris Effandi mengundangku
makan malam di rumahnya.
Aku memenuhinya. Jiwaku lapar akan
roti lezat yang disuguhkan surga melalui
tangan-tangan Selma. Roti spiritual
yang membuat hati kami semakin
lapar saat menyantapnya. Itulah roti
yang dinikmati oleh Kais (seorang
pujagga Arab), Dante dan Sappho dan
yang menyalakan api di hati mereka.
Sang Pujaan | 35
Roti yang disiapkan seorang dewi dengan
manisnya ciuman dan pahitnya
air mata.
Saat aku sampai di rumah Farris
Effandi, aku melihat Selma sedang
duduk di bangku di kebun. Ia menyandarkan
kepalanya di sebuah pohon
dan tampak seperti seorang mempelai
dalam gaun sutera putihnya atau
seperti seorang pengawal yang menjaga
tempat itu.
Dengan tenang dan sopan, aku
mendekatinya dan duduk di sampingnya.
Karena aku tak dapat mengucap
sepatah kata pun maka aku berusaha
diam, satu-satunya bahasa hati.
Namun aku merasa bahwa Selma
mendengar suara tanpa kataku dan
melihat hantu-hantu jiwaku melalui
sepasang mataku.
Beberapa menit kemudian lakilaki
tua itu datang menyapaku seperti
biasa. Ketika mengulurkan tangan
padaku, aku merasa seolah ia sedang
36 | Kahlil Gibran
memberkahi rahasia-rahasia yang
menyatukanku dengan puterinya. Kemudian
ia berkata: “Makan malam
sudah siap anak-anakku, mari kita
bersantap.” Kami beranjak mengikutinya.
Sepasang mata Selma berkerjapkerjap
karena sebuah perasaan baru
menambah kecintaannya ketika ayahnya
memanggil kami dengan sebutan
anak-anaknya.
Kami duduk di meja menikmati
makanan dan meminum anggur lezat.
Namun jiwa kami sedang berkelana
di sebuah dunia yang jauh. Kami melamunkan
masa depan dan kesulitannya.
Tiga orang yang terpisah dalam
pikiran namun menyaru dalam cinta.
Tiga manusia lugu yang memiliki banyak
perasaan dan sedikit pengetahuan.
Sebuah drama yang ditampilkan
oleh seorang laki-laki tua yang
mencintai puterinya, seorang perempuan
muda sekitar dua puluh tahunan
Sang Pujaan | 37
yang memandang masa depan dengan
gelisah dan seorang laki-laki
muda yang melamun dan khawatir.
Pemuda yang tidak merasakan anggur
kehidupan maupun cukanya dan
berusaha menggapai agungnya cinta
dan pengetahuan, namun tidak dapat
mengangkat dirinya. Kami bertiga
duduk dalam suasana temaram
makan dan minum dalam rumah
yang terpencil itu, diawasi sepasang
mata surga namun bagian atas gelas
kami tertutup kepahitan dan kesedihan.
Ketika kami selesai makan, salah
seorang pelayan memberitahukan kedatangan
seorang laki-laki yang ingin
bertemu dengannya. “Siapa ia?” tanya
laki-laki tua itu. “Utusan pendeta,”
jawab pelayan itu. sejenak Farris
Effandi terdiam memandang puterinya
seperti seorang nabi yang memandang
langit untuk menyingkap rahasia-
rahasianya. Kemudian ia ber-
38 | Kahlil Gibran
kata pada pelayan tesebut “Persilakan
ia masuk.”
Ketika pelayan itu berlalu, seorang
laki-laki memakai pakaian ala
Timur dengan kumis lebat yang ujungnya
dipilin masuk dan memberi salam
pada laki-laki tua itu seraya berkata:
“Yang mulia, pendeta mengutusku
untuk menjemputmu dengan kereta
khususnya. Beliau ingin membicarakan
masalah penting dengan anda.”
Wajah laki-laki tua itu tampak sedih
dan senyumnya tak tampak. Sesaat
setelah memikirkan dengan seksama,
ia mendekatiku dan berkata dengan
suara yang bersahabat: “Aku harap
saat aku kembali nanti engkau masih
ada di sini karena Selma membutuhkan
teman di tempat yang terpencil
ini.”
Setelah mengatakannya ia menoleh
ke arah Selma dan tersenyum,
menanyakan persetujuannya. Ia menganggukkan
kepalanya kendati pipinya
Sang Pujaan | 39
menjadi merah. Dan dengan suara
yang lebih manis dari musik liris, Selma
berkata: “Aku akan melakukan
apa saja untuk membuat tamu kita
senang.”
Selma memandangi kereta yang
membawa ayahnya dan utusan pendeta
hingga ia tak terlihat. Kemudian
ia datang dan duduk di hadapanku di
sebuah dipan yang dibalut dengan
sutera hijau. Ia tampak seperti setangkai
Lili yang merunduk dl hamparan
rumput hijau karena desiran angin
pagi hari. Inilah takdir surga yang
mngharuskanku berdua bersama Selma
di malam hari dalam rumahnya
yang indah yang dikelilingi pohon-pohon
di mana kesunyian, cinta, keindahan
dan kebajikan tinggal bersama.
Kami berdua terdiam, saling menunggu
siapa yang akan berbicara
namun pembicaraan tidak selalu berarti
pemahaman antara dua jiwa.
Kata-kata yang berasal dari bibir-bi-
40 | Kahlil Gibran
Sang Pujaan | 41
bir dan lidah-lidah tidak selalu bisa
membawa sepasang hati bersama.
Ada sesuatu yang lebih agung dan
lebih murni dari apa yang diutarakan
mulut. Keheningan menyelimuti jiwajiwa
kami, berbisik pada hati-hati kami
dan membawa keduanya bersama.
Kesunyian memisahkan kami dari diri
kami masing-masing, membuat kita
menjelajahi cakrawala jiwa dan membawa
kami lebih dekat pada langit.
Hal itu membuat kami merasa bahwa
tubuh-tubuh ini tak lebih hanyalah
penjara-penjara dan dunia ini tak lebih
dari tempat pembuangan.
Selma menatapku, sepasang matanya
mengungkapkan rahasia hatinya.
Kemudian ia berkata dengan tenang:
“Mari kita ke kebun dan duduk
di bawah pepohonan memandang
bulan terbit dari balik pegunungan.”
Dengan patuh, aku beranjak dari tempat
dudukku, namun aku ragu. “Tidakkah
lebih baik kita di sini hingga bulan
terbit dan menyinari kebun.” Dan
aku melanjutkan: “Kegelapan menyembunyikan
pohon-pohon dan bebungaan.
Kita tidak bisa melihat apa
pun.”
Kemudian ia berkata: “Sekalipun
kegelapan menyembunyikan pohonpohon
dan bebungaan dari mata kita,
namun ia tidak akan menyembunyikan
cinta dari hati kita.”
Setelah mengatakan kata-kata itu
dengan nada aneh ia mengarahkan
pandangan matanya ke luar jendela
dan aku tetap diam, mempertimbangkan
kata-kata dan kebenaran arti
tiap suku katanya. Kemudian ia memandangku
seolah ia menyesali apa
yang ia katakan dan berusaha menyingkirkan
kata-kata itu dari telingaku
dengan sihir matanya. Namun
mata itu malah membuat aku lupa
atas apa yang ia katakan dengan terulang
melaui relung hatiku dengan
jelas dan baik. Kata-kata manis yang
42 | Kahlil Gibran
telah terkubur dalam kenanganku
karena keabadian.
Tiap kecantikan dan keagungan
di dunia ini diciptakan oleh satu ide
atau perasaan seorang manusia. Apa
pun yang kita saksikan saat ini dibuat
oleh generasi yang lalu. la berasal dari
ide yang ada di pikiran seorang lakilaki
atau luapan perasaan dari hati
seorang perempuan. Revolusi yang
menumpahkan banyah darah dan
menggerakkan pikiran-pikiran laki-laki
ke arah kemerdekaan merupakan ide
seorang laki-laki yang ada di tengah
ribuan laki-laki lainnya. Perang-perang
yang menghancurkan yang
merusak kekaisaran-kekaisaran adalah
pikiran-pikiran yang ada dalam
akal seseorang. Ajaran-ajaran tinggi
yang merubah tujuan manusia adalah
ide seorang laki-laki yang memiliki
kecerdasan yang terpisah dari lingkungannya.
Sebuah ide mandiri mampu
mendirikan piramid-piramid, men-
Sang Pujaan | 43
ciptakan kejayaan Islam dan memajukan
perpustakaan di Aleksandria.
Satu ide akan datang padamu di
suatu malam yang akan mengangkatmu
pada kejayaan atau membimbingmu
ke tempat suaka. Sebuah pandangan
dari mata seorang wanita
membuatmu menjadi laki-laki paling
bahagia di dunia. Satu kata dari sepasang
bibir seorang laki-laki akan
membuatmu menjadi kaya atau miskin.
Kata-kata yang diutarakan Selma
malam itu menahanku antara masa
lalu dan masa depan, seperti sebuah
perahu yang dilabuhkan di tengan
samudera. Kata tersebut membangunkanku
dari tidur masa muda dan
kekhawatiran. la menempatkanku di
panggung tempat hidup dan mati
menempatkan bagiua-bagiannya.
Aroma bunga bercampur dengan
angin sepoi-sepoi ketika kami memasuki
kebun itu dan duduk dengan te-
44 | Kahlil Gibran
nang di sebuah bangku dekat pohon
Melati seraya mendengar tarikan
nafas alam yang sedang tidur. Sementara
di langit biru sepasang mata langit
menyaksikan drama kami.
Bulan terbit dari balik gunung
Sunnin dan menyinari pantai, bukitbukit
dan gunung-gunung. Kami dapat
melihat desa-desa mengelilingi
lembah seperti hantu-hantu. Kami
dapat menyaksikan seluruh keindahan
Lebanon di bawah sinar-sinar perak
rembulan.
Para penyair Barat mengira Lebanon
sebagai sebuah tempat yang
legendaris, yang terlupakan sejak
Daud, Sulaiman dan nabi-nabi seperti
taman Eden yang hilang sejak kejatuhan
Adam dan Eva. Oleh para
penyair Barat, kata Lebanon dianggap
sebagai ekspresi puitis yang dihubungkan
dengan gunung-gunung
yang sisi-sisinya dibasahi dengan kemenyan
Cedar yang suci. Hal itu
Sang Pujaan I 45
mengingatkan mereka pada kuil-kuil
tembaga dan marmer yang berdiri
kokoh dan tak terkalahkan, dan dari
kawanan musang yang mencari makan
di lembah-lembah. malam itu
kulihat Lebanon bermimpi tidak seperti
apa yang digambarkan seorang
penyair.
Demikianlah segala sesuatu berubah
sesuai dengan perasaan, begitu
juga kita yang melihat ketakjuban dan
kecantikan di dalamnya sementara
ketakjuban dan kecantikan itu ada
dalam diri kita sendiri.
Karena sinar bulan itu menyinari
wajah, leher dan kedua lengannya ia
tampak seperti sebuah patung gading
yang dipahat oleh jari-jari beberapa
pemuja Ishtar, dewi kecantikan dan
cinta. Ketika ia memandangku ia berkata:
“Mengapa engkau diam? Mengapa
engkau tidak bercerita padaku
tentang masa lalumu?” Saat aku memandangnya
kebisuanku lenyap dan
46 | Kahlil Gibran
aku membuka sepasang bibirku dan
berkata: “Tidakkah engkau mendengar
apa yang aku katakan ketika kita
masuk ke kebun buah-buahan ini?
Jiwa yang mendengar bisikan bungabunga
dan nyanyian keheningan dapat
pula mendengar jeritan dan teriakan
hatiku.”
la menutup wajahnya dengan kedua
tangannya dan berkata dengan
suara yang bergetar: “Ya, aku mendengarmu.
Aku mendengar sebuah
suara yang datang dari tengah malam
dan teriakan yang keras di tengah
hari.”
Aku melupakan masa laluku,
keadaanku -semuanya, kecuali Selma—
dan menjawabnya dengan perkataan:
“Aku mendengarmu juga Selma.
Aku mendengar musik yang
menggembirakan menggetarkan udara
dan seluruh dunia.”
Setelah mendengar kata-kata itu,
ia memejamkan matanya dan di ke-
Sang Pujaan I 47
dua bibirnya kulihat senyum kegembiraan
bercampur dengan kesedihan.
la berbisik dengan lembut: “Sekarang
aku tahu bahwa ada sesuatu yang lebih
tinggi dari langit, lebih dalam dari
samudera dan lebih aneh dari hidup,
mati dan waktu. Sekarang aku tahu
sesuatu yang tak aku ketahui sebelumnya.”
Saat itu Selma menjadi lebih sayang
dari seorang teman, lebih dekat
dari seorang saudara dan lebih cinta
dari seorang kekasih. la menjadi pikiran
tertinggi, mimpi terindah dan
perasaaan terkuat yang ada di jiwaku.
Sungguh salah jika mengira bahwa
cinta berasal dari persahabatan
yang lama dan teguhnya masa perkenalan.
Cinta adalah musim semi yang
sial dari perasaan jiwa dan jika
perasaan itu tercipta sesaat, ia tidak
akan mampu bertahan selama bertahun-
tahun bahkan sampai beberapa
generasi.
48 I Kahlil Gibran
Lalu Selma mengangkat kepalanya
dan memandang cakrawala tempat
gunung Sunnin bertemu dengan
langit, dan ia berkata: “Kemarin engkau
seperti seorang saudara bagiku,
bersamanya aku tinggal dan di sisinya
aku duduk dengan tenang di
bawah asuhan ayahku. Sekarang aku
merasakan adanya sesuatu yang lebih
aneh dan lebih manis dari sekedar
kasih sayang seorang saudara,
percampuran yang tak kukenal antara
cinta dan takut yang memenuhi
hatiku dengan kesedihan dan kebahagiaan.”
Aku menanggapi: “Perasaan yang
membuat kita takut dan gemetar ketika
melintas melalui hati kita merupakan
hukum alam yang membimbing
bulan mengelilingi bumi dan matahari
mengelilingi Tuhan.”
Ia meletakkan tangannya di kepalaku
dan mengusapkan jari-jarinya
di rambutku. Wajahnya bercahaya
Sang Pujaan | 49
dan air mata keluar dari kedua matanya
seperti jatuhnya embun dari daundaun
Lili, kemudian ia berkata: “Siapa
yang akan percaya dengan cerita
kita? Siapa yang akan percaya bahwa
saat ini kita telah mengatasi rintangan-
rintangan keraguan? Siapa
yang akan percaya bahwa bulan
Nisan yang menyatukan kita adalah
bulan yang menghentikan kita dalam
kesucian dari kesucian-kesucian
hidup?”
Tangannya masih mengusapusap
kepalaku saat ia berbicara, dan
aku tidak akan memilih sebuah mahkota
raja atau rangkaian kejayaan
dari tangan yang cantik dan halus itu
yang memiliki jari-jari yang diusapkan
di rambutku.
Kemudian aku menjawabnya:
“Orang-orang tidak akan percaya dengan
cerita kita karena mereka tidak
tahu bahwa cinta adalah satu-satunya
bunga yang tumbuh dan semer-
50 | Kahlil Gibran
bak tanpa mempedulikan musim, kecuali
bulan Nisan yang mempertemukan
kita untuk pertama kalinya dan
waktu yang menahan kita dalam kesucian
di antara kasucian-kesucian
hidup. Bukankah tangan Tuhan mendekatkan
jiwa kita sebelum kita lahir
dan membuat penjara-penjara bagi
masing-masing sepanjang siang dan
malam? Kehidupan seorang manusia
tidak dimulai dari rahim dan tidak diakhiri
dengan kuburan; cakrawala
yang penuh dengan cahaya bulan dan
bintang-bintang tidak akan ditinggalkan
oleh jiwa-jiwa cinta dan ruh-ruh
intuitif.”
Saat ia menjauhkan tangannya
dari kepalaku aku merasakan getaran
listrik pada akar-akar rambutku
bercampur dengan angin malam.
Seperti seorang pemuja setia yang
menerima berkahnya dengan mencium
altar di sebuah kuil. Aku meraih
tangan Selma dan meletakkannya di
Sang Pujaan | 51
kedua bibirku yang hangat di atasnya
dan memberinya ciuman panjang.
Kenangan yang meluluhkan hatiku
dan membangunkan keindahankeindahanya
dengan semua kebajikan
jiwaku.
Satu jam berlalu, tiap menitnya
adalah tahun cinta. Kesunyian
malam, cahaya bulan, bunga-bunga
dan pohon-pohon membuat kami lupa
akan semua kenyataan kecuali cinta.
Tiba-tiba kami mendengar derap langkah
kuda dan gemeretak roda kereta.
Kami tersadar dari kebahagiaan kami
yang tak sadar dan melemparkan dunia
mimpi-mimpi ke dunia yang penuh
dengan kebingungan dan kesengsaraan.
Kami mendapati laki-laki tua itu
telah kembali dari tugasnya. Kami
bangkit dan berjalan melalui kebun
buah-buahan itu untuk menemuinya.
Ketika kereta itu sampai di pintu
masuk kebun, Farris Effandi turun
dan berjalan dengan pelan lurus ke
52 | Kahlil Gibran
arah kami dalam keadaan lunglai.
Sekilas, ia tampak sedang membawa
beban yang berat. Ia mendekati Selma,
meletakkan tangannya di kedua
bahunya dan memandanginya. Air
mata membasahi kedua pipinya yang
keriput dan kedua bibirnya bergetar
dengan senyum kesedihan. Dengan
suara tercekik, ia berkata: “Sayang,
tak lama lagi engkau akan dibawa
jauh dari rengkuhan ayahmu dan
memasuki rengkuhan orang lain. Sebentar
lagi pendeta akan membawamu
dari rumah yang sepi ini menuju
istana di dunia yang luas. Kebun ini
akan merindukan jejak langkahmu
dan ayahmu akan menjadi orang asing
bagimu. Semua telah terjadi. Semoga
Tuhan memberkatimu.”
Setelah mendengar kata-kata
tersebut, wajah Selma sedih dan sepasang
matanya sayu seolah ia
merasakan sebuah tanda kematian.
Kemudian ia ketakutan, seperti seekor
Sang Pujaan | 53
burung yang tertembak, menderita
dan cemas dan dalam suara tertahannya
ia berkata: “Apa yang engkau
katakan? Apa maksudnya? Kemana
engkau akan mengirimku?”
Kemudian ia memandangnya
dengan menyelidik, berusaha untuk
menyingkap rahasianya. sesaat kemudian
ia berkata: “Aku mengerti. Aku
mengerti semuanya. Pendeta telah
memintaku dari sisimu dan telah menyiapkan
sebuah sangkar burung dengan
sayap-sayap yang patah. Inikah
keinginanmu, Ayah?”
Jawabannya adalah sebuah desahan
nafas panjang. Dengan halus
ia membimbing Selma memasuki rumah
sementara aku masih berdiri di
kebun. Riak-riak kebingungan menyelimutiku
seperti sebuah badai yang
menggugurkan daun-daun musim gugur.
Kemudian aku mengikuti mereka
memasuki ruang tamu untuk menghindari
hal-hal yang memalukan, yang
54 I Kahlil Gibran
menggoncangkan tangan laki-laki tua
itu dan memandangi Selma bintang
cantikku dan meninggalkan rumah.
Ketika aku sampai di ujung kebun
aku mendengar laki-laki tua itu
memanggilku dan meminta untuk
menemuinya. Dengan menyesal ia
meraih tanganku dan berkata: “Maafkan
aku, Anakku. Aku telah merusak
malammu dengan tetesan air mata,
tapi temui aku saat rumahku ditinggalkan
dan aku kesepian dan putus
asa. Wahai pemuda, anakku sayang!
Janganlah engkau mencampur-adukkan
masalah yang terjadi di pagi hari
dengan keadaan yang lemah. Karena
pagi hari tidak akan bertemu dengan
malam. Namun engkau akan datang
padaku dan mengingatkanku pada
kenanganku tentang masa mudaku
yang aku lewatkan bersama ayahmu.
Engkau akan mengabariku tentang
kabar-kabar kehidupan yang tidak
akan menganggapku sebagai salah
Sang Pujaan | 55
satu anaknya lagi. Apakah engkau
tidak akan mengunjungiku lagi ketika
Selma pergi dan aku di sini dalam
kesepian?”
Sementara ia mengatakan katakata
menyedihkan itu, dengan tenang
aku menjabat tangannya. Aku merasakan
air mata hangat jatuh dari matanya
ke atas tanganku yang bergetar
dengan sedih dan kasih sayang
anak. Aku merasakan seolah hatiku
tercekik dengan duka cita. Ketika aku
mengangkat kepalaku dan ia melihat
air mata di mataku, ia membungkuk
ke arahku dan mencium dahiku dan
berkata: “Selamat tinggal anakku,
selamat tinggal.”
Air mata seorang laki-laki tua lebih
menggetarkan daripada air mata seorang
pemuda karena ia merupakan
sisa hidup dalam tubuhnya yang
lemah. Air mata seorang pemuda seperti
embun yang jatuh di daun setangkai
Mawar, sementara air mata
56 | Kahlil Gibran
seorang laki-laki tua seperti daun layu
yang jatuh bersama angin musim dingin.
Ketika aku meninggalkan rumah
Farris Effandi Karamy, suara Selma
masih terdengar di telingaku, kecantikannya
mengikutiku seperti sebuah
hantu dan air mata ayahnya mengering
dengan lambat di tanganku.
Kepulanganku seperti kepindahan
Adam dari surga, namun Eva hatiku
tidak ada bersamaku untuk menciptakan
seluruh dunia menjadi sebuah
Eden. Malam itu saat aku terlahir
kembali, aku merasa bahwa aku
melihat wajah kematian untuk pertama
kalinya.
Begitulah mentari menyemarakkan
dan membunuh ladang-ladang
dengan panasnya.***
Sang Pujaan | 57
Harga Sejarah
Sebuah Bangsa
Di sepanjang anak sungai yang berkelok
liku di antara bongkahan batubatu
cadas di kaki Gunung Lebanon
duduklah seorang penggembala wanita
dikelilingi sekerumunan dombadomba
kurus yang sedang merumput
di atas rumput kering. Dia melemparkan
pandangannya pada senjakala di
kehampaan yang kelam seolah hendak
mengejar khayalan yang lepas
58 | Kahlil Gibran
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
meninggalkannya. Air mata menetes
di kelopak matanya, setetes embun
menghiasi bunga-bunga. Penderitaan
telah menyebabkan bibirnya terbuka,
dan hatinya pun pasrah menanggung
resah dan gelisah.
Setelah matahari terbenam, selaksa
bukit-bukit kecil dan gununggunung
membungkus diri mereka
dalam bayangan, Sejarah berdiri di
hadapan perawan. Dia adalah seorang
lelaki tua berambut putih seperti
salju merayap di atas dada dan
pundaknya. Di tangan kanannya tergenggam
sabit yang tajam. Dalam
suara yang menyerupai raungan lautan,
ia berkata, “Salam sejahtera
bagimu, Syiria.”*)
Sang bunga mawar perawan
menggigil ketakutan dan bergumam.
“Apa yang kau inginkan dari hamba,
*) Saat kisah ini ditulis Lebanon dan Syiria
adalah satu negara yang dikenal dengan sebutan
Syiria.
Sang Pujaan | 59
hai Sejarah?” Kemudian ia menunjuk
dombanya. “Ini adalah sisa sekawanan
dombaku yang kerapkali
menyusuri lembah ini. Inilah keirihatianmu
yang engkau tinggalkan
padaku. Apakah kedatanganmu sekarang
sekedar untuk memenuhi hasratmu
yang rakus itu?
Daratan ini yang dulu pernah
tumbuh subur kini telah gersang diinjak-
injak oleh kakimu yang penuh
debu tandus. Lembu milikku, yang
pernah merumput di atas bunga-bunga
dan menghasilkan susu yang
berkental-kental, kini menggerogoti
tanaman widuri yang kurus kering.
Takutlah pada Tuhanmu, oh Sejarah,
dan engkau merundungku tanpa
ampun. Pandanganmu membuat
aku benci pada kehidupan, dan dengan
kejam sabitmu telah membuat
diriku mencintai Kematian.
Tinggalkan aku dalam kesunyian
agar bisa mengeringkan cangkir duka
60 | Kahlil Gibran
cita, anggur terbaikku. Pergilah, hai
Sejarah, ke Barat di mana pesta
pernikahan Kehidupan dirayakan. Biarkan
aku disini, di belakangmu meratapi
segala milikku yang hilang, yang
telah engkau persiapkan untukku.”
Dia menyembunyikan sabitnya di
balik lipatan pakaiannya. Sejarah
melihatnya laksana sang ayah yang
penuh cinta pada anak-anaknya, dan
berkata, “Oh Syiria, bukankah segala
yang telah aku renggut darimu adalah
pemberianku sendiri? Ketahuilah
bahwa saudara perempuan sebuah
bangsa diberikan nama dari bagian
kemenangan yang menjadi milikmu.
Aku hams memberikan pada mereka
apa yang aku juga berikan padamu.
Kesedihanmu seperti negeri Mesir,
Persia dan Yunani, setiap dari negerinegeri
itu juga memiliki sekawanan
domba-domba kunis kering di padang
rumput. Oh Syiria, apa yang kau sebut
dengan keburukan tak lain adalah
Sang Pujaan | 61
sebuah tidur yang menjadi hasrat
kekuatan dirimu. Sesekali Bunga tidak
akan kembali ke kehidupan kecuali
lewat kematian, demikian pula cinta
tidak akan bersemi kecuali setelah
perpisahan.”
Sang lelaki tua itu datang menghampiri
sang perawan, mengulurkan
tangannya dan berkata, “Goyangkanlah
tanganku, oh Putri Nabi.”
la pun lalu menggoyangkan tangannya
sambil memandangnya dari
belakang layar airmata dan berkata,
“Selamat jalan, hai Sejarah, selamat
jalan untukmu.”
Dan ia membalas, “Sampai bertemu
lagi, Syiria, sampai berjumpa lagi.”
Dalam cuaca senja yang kelam,
lelaki tua tersebut menghilang secepat
cahaya. Penggembala wanita memanggil
domba-dombanya dan melanjutkan
lagi perjalanannya. Ia berkata pada
dirinya sendiri, “Akankah di sana ada
pertemuan yang lain?”***
62 | Kahiil Gibran
Hewari’hewan
Di suatu senja yang temaram, pada
suatu hari yang indah, ketika beribu
khayalan mengendap dalam pikiranku,
aku pergi seorang diri menuju
pinggiran kota, menyusuri loronglorong
jalan. Di kiri-kanan jalan yang
kulalui berjejer rumah-rumah penduduk,
terdiam dalam sunyi. Rumahrumah
itu kini tinggal puing-puing belaka.
Sang Pujaan | 63
Di reruntuhan rumah itu terlihat
seekor anjing sedang terbujur di atas
sampah dan abu. Kulitnya tercabikcabik
oleh luka-luka menganga terbalut
kesakitan yang memburai di tubuhnya
yang lemah. Pandangannya yang
blingsatan tertuju pada cahaya matahari,
namun seolah menampakkan
mata pandang yang penuh kepiluan
sebagai jeritan keputusasaan, penderitaan,
dan kehinaan.
Perlahan aku melangkahkan kaki,
mencoba menghampirinya dengan
harapan dapat kupahami bahasanya
sehingga aku bisa meringankan duka
lara jiwanya. Ternyata kedekatanku
hanya menakutkannya saja, dan ia
berusaha bangun dari sakit dengan
kaki lumpuh. Anjing kurus itu terjatuh,
kemudian ia membidikkan pandangannya
padaku dengan harapan yang
berbalut sinis. Pandangannya yang
sekilas itu, begitu cepat dan lebih menyentuh
daripada air mata manusia.
64 | Kahlil Gibran
Berikut penuturannya yang dapat aku
pahami ketika ia berkata:
“Hai anak manusia, telah aku
tanggung derita nestapa sampai-sampai
tak tertahankan olehku, dan hai
ini disebabkan oleh kebrutalan dan
ketidakmanusiawianmu.
“Aku telah lari dari kaki-kaki kalian
yang telah menyebabkan tubuhku terluka
memar. Akhirnya, aku pun mencari
perlindungan di sini. Bagiku, hati
manusia tak lebih mulia dari debu dan
kotoran, puing-puing ini pun lebih
melankolis ketimbang jiwa manusia.
Enyahlah, kalian adalah pengacau
dunia yang menodai hukum, melacuri
keadilan negeri ini.
“Seringkali aku merasa heran,
bahwa diriku tak lebih hanyalah makhluk
sengsara yang melayani anak
Adam dengan penuh kesetiaan dan
loyalitas. Akulah sahabat sejatimu
yang penuh setia, kau kujaga sepanjang
siang dan malam. Ketika kau tia-
Sang Pujaan | 65
da hatiku sedih dan ketika kau kembali
hatiku menyambut dengan penuh
gembira. Walau makananku hanya
sampah-sampah sisa makanan yang
kalian makan, aku sudah cukup merasa
puas. Dan aku pun sudah cukup
merasa bahagia dengan tulang-tulang
yang telah dikuliti oleh gigi-gigi kalian.
Namun ketika umurku sudah memasuki
usia senja dan sakit-sakitan, aku
lalu diusirnya dari rumah serta meninggalkan
aku seorang diri tanpa berperasaan.
“Oh Putra Adam, aku lihat persamaan
antara aku dan kalian ketika
sang waktu meremukkan mereka.
Ada bala tentara yang berjuang melawan
musuh demi negara ketika
mereka sudah merasa kehidupannya
sejahtera. Namun saat ini, musim dingin
kehidupan telah tiba dan mereka
tidak berfaedah untuk waktu yang
lebih lama, mereka telah tersingkir.
“Aku pun melihat sebuah persa-
66 I Kahlil Gibran
maan antara nasibku dan nasib seorang
wanita yang hari-harinya begitu
indah, waktunya ia curahkan untuk
hati seorang pria muda; yang kemudian,
sebagai seorang ibu, hidupnya
ia curahkan sepenuh jiwa untuk si
buah hati. Namun setelah berusia tua,
dia dicampakkan dan dijauhi begitu
saja. Betapa murkanya gempamu,
wahai anak Adam, kalian adalah penindas!”
Demikianlah hatiku memahami
bahasa kata-kata seekor binatang
bisu.***
Sang Pujaan | 67
Iblis4blis
-Khauri adalah orang yang tajam
pendengarannya, dia tahu semua detail
seluk beluk hal-hal ruhiyah (immaterial),
dia mampu membuka persoalan-
persoalan ketuhanan, dia tahu
secara dalam rahasia-rahasia dosadosa
dan kematian, dia bisa melihat
rahasia Jahim, Firdaus dan Muthahhir.
Al-Khauri selalu berpindah-pin-
68 | Kahlil Gibran
dah di desa-desa di Libanon Utara
untuk mensehati manusia dan menyembuhkan
jiwa-jiwa mereka dari
dosa-dosa dan melepaskan mereka
dari jerat-jerat syetan, karena syetan
adalah musuh al-Khauri yang selalu
melawannya siang malam tanpa
merasa bosan dan lelah.
Penduduk desa-desa itu memuliakan
al-Khauri Sam’an dan mereka
tidak merasa rugi denagn menukar
nasehat-nasehatnya dan do’a-doa,ya
dengan emas, perak, dan mereka berlomba-
lomba utnuk mendapatkan
petunjuknya yang lebih baik dari apa
pun yang dihasilkan pohon-pohon dan
lebih utama dari apa yang ditumbuhkan
di ladang-ladang mereka.
Pada suaru malam musim gugur
Al-Khauri Sam’an berjalan di suatu
tempat yang sunyi menuju desa terpencil
yang terletak di antara gununggunung
dan lembah-lembah. Kemudian
dia mendengar suara mengerang
Sang Pujaan | 69
yang datang dari sisi jalan, lalu ia
menoleh dan tiba-tiba ia melihat ada
seorang lelaki telanjang tergeletak di
atas tanah dan berlumuran darah
yang mengalir dari luka-luka yang ada
di kepalanya dan dadanya, lelaki terluka
itu berkata minta tolong: Selamatkan
aku, tolong aku, kasihanilah
aku, aku sekarat.
Lalu al-Khauri Sam’an berhenti
bingung dan memandangi lelaki yang
merintih itu dan berkata dalam hatinya:
Mungkin dia salah seorang perampok,
aku kira dia telah berusaha
merampok rombongan musafir namun
ia. Saat itu lelaki terluka itu sedang
sekarat dan jika dia mati sementara
aku ada di dekatnya maka aku
akan dicap bersalah bila aku membiarkannya.
Al-Khauri berkata demikian seraya
meneruskan langkahnya namun
lelaki terluka itu menghentikannya
dengan berkata: Jangan tinggalkan
70 | Kahlil Gibran
aku, jangan tinggalkan aku? Aku mengenalmu
dan kamu tahu siapa aku.
Aku adalah gelandangan yang tak
punya tempat untuk bernaung?
Al-Khauri berkata dalam hati,
wajahnya memucat dan bibirnya
gemetaran: Aku kira orang ini salah
satu pelawak yang melucu di depan
orang-orang kemudian al-Khauri
Sam’an kembali dan berkata pada
dirinya: Sungguh luka-lukanya membuatku
bergidik takut, lalu apa yang
bisa aku lakukan untuknya? Sesungguhnya
tabib penyakit kejiwaan (ruhaniyah)
itu tidak bisa mengobati penyakit
Jasmani.
Kemudian al-Khauri Sam’an berjalan
beberapa langkah, namun lalu
lelaki terluka itu berteriak, mencairkan
kebekuan dengan berkata: Dekatlah
padaku, dekatlah, karena kita adalah
sahabat sejak lama sekali, kamu
adalah al-Khauri Sam’an orang saleh,
dan aku -aku bukanlah perampok
Sang Pujaan | 71
atau orang sinting. Mendekatlah dan
jangan tinggalkan aku, aku akan mati
kesepian di lembah sunyi ini. Mendekatlah,
aku akan katakan siapa aku.
Lalu al-Khauri mendekat ke arah
lelaki sekarat itu dan menunduk sehingga
ia bisa melihat seraut wajah
aneh yang bagian-bagiannya menyiratkan
ketulusan dibalut tipuan,
kejelekan ditutup keindahan, najis dipoles
kesucian. Al-Khauri Sam’an
mundur ke belakang sambil berteriak:
Siapa kamu?.
Lelaki sekarat itu berkata lemah:
Jangan takut wahai Bapak, kita adalah
teman sejak lama sekali, bantu
aku berdiri dan berjalanlah bersamaku
menuju sungai kecil dan cucilah
luka-lukaku dengan sapu tanganmu.
Al-Khauri berteriak: Katakan kepadaku
siapa kamu, aku tidak mengenalmu,
seingatku aku tidak pernah
bertemu denganmu selama hidupku.
Lelaki terluka itu berkata dan se-
72 | Kahlil Gibran
akan telah cengkeraman maut memeluk
suaranya: Bapak tahu siapa aku,
Bapak telah menemuiku 1000 kali dan
Bapak telah melihat wajahku di setiap
tempat. Aku adalah makhluk terdekat
kepadamu, bahkan aku lebih
tua dari hidupmu.
Al-Khauri berteriak: Kamu bohong,
kamu makhluk mengerikan, aku
tidak pernah melihat wajahmu dalam
hidupku, katakan siapa kamu jika
tidak aku akan membiarkanmu mati
berlumurkan darah.
Lelaki terluka itu bergerak-gerak
sedikit lalu memandang tajam ke arah
mata al-Khauri dan nampaklah di kedua
bibirnya senyum yang penuh arti,
dan dengan suara tenang, lembut lagi
dalam dia berkata: Aku syetan.
Maka berteriaklah orang suci itu,
kengerian-kengerian di setiap sudut
lembah itu mebuatnya gemetaran,
kemudian ia pandangi lekat-lekat lelaki
sekarat itu, Sam’an melihat tu-
Sang Pujaan | 73
buh yang penuh luka itu berdiri dalam
rupa iblis sebagaimana lukisan perhitungan
atas dosa yang di ganturig di
dinding gereja desa, kemudian
Sam’an berteriak: Tuhan telah memperlihatkan
kepadaku gambar
wajah jahanammu agar aku semakin
membencimu, kamu orang yang
terkutuk untuk selama-lamanya!
Syetan berkata: Jangan terburuburu
hei Bapak, jangan buang-buang
waktu dengan omong kosong, tetapi
mendekatlah dan balutlah luka-lukaku
sebelum nyawa yang ada di dalam
tubuhku mengalir keluar.
Al-Khauri berkata: Sesungguhnya
jari-jariku yang selalu mengangkat
sesaji untuk Tuhan-Tuhan disetiap
harinya tidak akan pernah menyentuh
tubuhmu yang terbuat dari tanah
keras neraka Jahim, enyahlah kamu
sebagai yang terkutuk dari kehidupan
zaman dan bibir manusia, kamu adalah
musuh lama dan penyebab atas
74 | Kahlil Gibran
Sang Pujaan | 75
kelaliman manusia.
Syetan berkata sambil meliukliukkan
badan: Kamu tidak tahu atas
apa yang kamu katakan dan kamu
tidak paham dosa yang mana yang
kamu lakukan terhadap dirimu. Dengar,
aku akan kabarkan tentang
kisahku. Hari ini aku berjalan sendiri
di lembah sunyi ini, ketika aku sampai
di tempat ini aku bertemu dengan
sekelompok pasukan malaikat lalu
mereka menyerangku dan memukuliku
dengan pukulan mematikan, dan
andaikan di antara mereka tidak ada
yang membawa pedang mermata dua
pastilah telah aku tebas mereka semua,
tetapi apa yang dapat dilakukan
orang tak bersenjata terhadap
orang yang bersenjata?.
Beberapa saat syetan berhenti
berbicara meletakkan tangannya di
atas luka yang menganga di bagian
pelipis lalu meneruskan bicara: Adapun
malaikat yang bersenjata, aku
kira itu Mikael, dialah yang ahli menebaskan
pedang, andaikan aku tidak
terlempar ke tanah dan berpura-pura
sekarat dan mati maka tidak akan ada
yang tersisa dari anggota tubuhku,
semua pasti telah hancur.
Al-Khauri berkata merasa kasihan:
Mikhael, bukankah dia menyelamatkan
umat manusia dari musuhnya
yang keji?
Syetan berkata: Rasa permusuhanku
terhadap umat manusia itu tidak
lebih buruk dari rasa permusuhanmu
terhadap dirimu sendiri, kamu memberkati
Mikhael sementara dia tidak
memberimu manfaat apapun, kamu
menggelepar-geleparkan aku saat aku
hancur padahal aku tidak merampas
ketenteramanmu dan kebehagiaanmu.
Apakah kamu akan menghancurkan
kenikmatanku dan mengingkari
kebaikanku sedang kamu
hidup dalam bayang-bayang wujudku?
Apakah kamu tidak akan men-
76 | Kahlil Gibran
jadikan keberadaanku sebagai tempat
bekerja untukmu dan menjadikan namaku
sebagai aturan-aturan untuk
pekerjaan-pekerjaanmu? Apakah yang
telah berlalu itu cukup memuaskanmu
daripada kehadiranku di masa
depanku? Apakah pemberontakanmu
itu telah sampai pada batas yang
tidak terkandung bersama batas itu
suatu kebaikan? Apakah kamu tidak
tahu bahwa isterimu, anakmu dan
orang-orang itu akan kehilangan rizqi
mereka dengan melenyapkan aku
bahkan mereka akan mati, kelaparan
dengan kematianku? Apa yang akan
kamu lakukan andaikan takdir memutuskan
untuk melenyapkan aku, dan
pekerjaan apa yang bisa memperbaiki
keadaan umat manusia andaikan angin
ribut membinasakan namaku? Sejak
lima belas tahun kamu berjalan berkeliling
di antara desa-desa dan gunung-
gunung untuk memperingatkan
mereka/dari tali-tali jeratku dan men-
Sang Pujaan | 77
jauhkan mereka dari bencana-benca-’
na yang aku buat sementara mereka
menukar ajaran-ajaranmu dengan
harta mereka dan hasil kebun-kebun
mereka, lalu sesuatu yang mana yang
akan mereka tukar darimu esok hari
andai mereka tahu bahwa musuh
mereka telah mati, sementara mereka
merasa aman dalam jerat-jerat dan
tipuan-tipuan syetan, dan pekerjaan
yang mana yang disandarkan kepadamu
oleh orang-orang itu jika telah
kamu musnahkan pekerjaan memerangi
syetan dengan kematian syetan?
Tidakkah kamu tahu sedangkan kamu
adalah seorang agamawan bahwa keberadaan
syetan itu diadakan oleh
musuh-musuhnya yaitu para dukun,
pendeta-pendeta, dan tidakkah kamu
tahu bahwa permusuhan lama itu
adalah tangan misterius yang memindahkan
perak dan emas dari
saku-saku orang-orang beriman ke
saku-saku para pemberi ajaran kebaik-
78 | Kahlil Gibran
an dan para mursyid (penunjuk jalan
kebenaran)? Apakah kamu tidak tahu
sedangkan kamu adalah orang yang
‘alim lagi serba tahu bahwasanya
menghilangkan sebab itu berarti menghilangkan
akibat? Kalau demikian
bagaimana kamu akan rela dengan
kematianku sedangkan dengan kematianku
berarti meruntuhkan rumahmu,
memutus rizqimu dan mencabut roti
dari mulut isteri dan anakmu?
Beberapa saat syetan diam dan
berubahlah tanda-tanda kekalahan di
wajahnya berganti dengan tanda-tanda
roman muka kemenangan, kemudian
syetan kembali berkata: Ingatlah,
dan dengarkan hei penjahat yang
sombong aku akan memperlihatkan
kepadamu hakekat yang menghimpun
wujudku dan wujudmu, mengikat wujud
keberadaanku dengan nalurimu.
Pada masa pertama dari zaman ini,
manusia berdiri di depan matahari
dan membentangkan kedua tangan-
Sang Pujaan | 79
nya dan berteriak untuk pertama kalinya
seraya berkata: Tidak ada di balik
semesta raya Tuhan Yang Agung
yang menyukai kebaikan! Kemudian
manusia memutar punggung membelakangi
matahari dan manusia pun
melihat bayang-bayangnya terhampar
di permukaan tanah, lalu manusia
berteriak: Dan di keluasan hamparan
bumi ada syetan terkutuk yang menyukai
kejahatan! Kemudian manusia
berjalan menuju goa tempat berteduh
mereka sambil berbisik dalam
hati: Aku ada di antara dua Tuhan
yang menakutkan: Tuhan yang aku
berharap kepadanya dan Tuhan yang
aku perangi. Masa demi masa telah
berlalu dan manusia ada di antara
dua kekuatan mutlak; kekuatan yang
bisa mengangkat jiwanya ke puncak
kemuliaan karena itu manusia memberkatinya,
dan kekuatan yang masuk
ke dalam tubuhnya yang bisa membawanya
kepada kegelapan karena itu
80 | Kahlil Gibran
manusia mengutuknya. Namun manusia
tidak tahu makna-makna keberkahan
dan tidak memahami dasardasar
kutukan, tetapi konon antara
keduanya seperti pohon di musim
panas yang menyelimutinya. Dan ketika
manusia sampai kepada fajar
peradaban di mana cinta manusia
telah menumbuhkan keluarga kemudian
suku sehingga berbeda-bedalah
pekerjaan karena beragamnya tempat
minum dan keluhan mereka, sebagian
suku-sukumanusia itu mengerjakan
tanah dan yang lain bertemak,
menyulam pakaian, dan membangun
pertambambangan-pertambangan.
Pada masa yang telah lama sekali itu
muncullah kerahiban di bumi. Dan itulah
penyimpangan pertama yang dilakukan
oleh manusia tanpa merasa
perlu kepada kebutuhan hidup atau
hal-hal yang sewajarnya dalam hidup.
Syetan berheti bicara sebentar
kemudian tertawa terbahak-bahak
Sang Pujaan I 81
dengan suara yang menggetarkan
lembah sunyi itu. Seolah-olah gelakgelak
tertawa syetan itu melebarkan
lubang mulutnya karena itu ia peqang
lambungnya dengan tangannya yang
terluka, kemudian ia menatap tajam
al-Khauri Sam’an seraya berkata:
Pada masa itu kerahiban muncul di
bumi. Hei saudaraku, aku akan tunjukkan
bagaimana kemunculannya:
Dulu di kabilah suku yang pertama
ada seorang lelaki ayng di sebut “Louis”
aku tidak tahu mengapa nama
aneh itu diberikan kepadanya. Konon
Louis adalah seorang lelaki cerdas,
tetapi dia penganggur lagi bertubuh
lemah, dia tidak suka membajak
ladang, berternak, menggembala kambing
dan berburu binatang liar. Bahkan
konon dia benci pada semua pekerjaan
yang menuntut tenaga dan
gerak tubuh. Dan saat itu rizqi itu
tidak datang kecuali dengan bekerja,
maka Louis setiap malamnya lebih
82 | Kahlil Gibran
banyak tinggal di gubuknya dengan
perut kosong. Dan pada suatu malam
musim panas, anggota suku itu sedang
berkumpul di sekiling pondok
pemimpin mereka membicarakan
keseharian mereka dan saat itu mereka
sudah mengantuk, tiba-tiba salah
seorang dari mereka berdiri tegak dan
menunjuk ke arah rembulan dan berteriak
ketakutan seraya berkata:
Lihatlah Tuhan Malam, wajahnya telah
tertutup dan sinarnya menghilang
dan berubah menjadi batu hitam
menggantung di langit. Orang-orang
pun memandang lurus ke arah rembulan
kemudian mereka panik sambil
berteriak-teriak, berhamburan,
gemetaran, ketakutan, dan seolaholah
tangan-tangan kegelapan telah
mencengkeram jantung mereka karena
mereka melihat Tuhan Malam telah
berubah secara perlahan-lahan
menjadi bola hitam dan karena itu
permukaan bumi pun berubah. Ngarai-
Sang Pujaan | 83
ngarai dan lembah-lembah tertutup di
balik kain cadar hitam, saat itulah
Louis maju ke muka dia telah melihat
gerhana bulan dan gerhana matahari
beberapa kali pada masa
hidupnya yang dulu, ia berdiri di tengah-
tengah orang-orang mengangkat
kedua tangannya ke atas, dan dengan
keras ia keluarkan semua yang ada
dalam kecerdasannya berupa kepurapuraan
dan kebohongan-kebohongan
serta hal-hal yang dibuat-buat, dia
berteriak seraya berkata: Sujudlah
kalian, sujudlah, berdoalah menyebut
nama Tuhan dan sapulah wajah kalian
dengan tanah, karena Tuhan Kejahatan
sedang bertarung dengan Tuhan
Malam yang menerangi dan jika dia
kalah maka kita akan mati dan jika
menang kita akan tetap hidup. Bersujudlah
kalian, berdoalah dan sapulah
wajah kalian dengan debu, pejamkanlah
mata kalian dan jangan kalian
mendongakkan kepala kalian ke la-
84 | Kahlil Gibran
ngit karena barang siapa yang melihat
pertarungan Tuhan Cahaya dan
Tuhan Kejahatan maka ia akan kehilangan
penglihatannya dan petunjuknya,
akan menjadi gila dan buta sampai
akhir hayatnya, menunduklah dan
berdoalah dengan hati kalian agar
Tuhan Cahaya bisa mengalahkan
musuhnya ….
Dan Louis terus saja berbicara
dengan kata-kata itu yang muncul dari
imajinasinya ucapan-ucapan baru dan
terus mengulang-ulang ucapan-ucapannya
yang aneh yang belum pernah
mereka dengar sebelum malam itu,
sampai hal itu berlangsung selama
setengah jam dan rembulan pun telah
kembali kepada bentuk semula
dengan sempurna, lalu Louis meninggikan
suaranya dan berkata dengan
nada berwibawa dan gembira: Cukup,
sekarang lihatlah Tuhan Cahaya telah
mengalahkan musuhnya yang jahat
dan telah beredar kembali dian-
Sang Pujaan | 85
tar arak-arakan awan tipis dan bintang-
bintang. Dan ketahuilah bahwa
kalian dengan bersujud dan doa
kalian, kalian telah menolong Tuhan
Cahaya dan menggembirakannya,
karena itu sekarang kalian dapat melihatnya.
Lebih terang dan lebih menyilaukan.
Kemudian orang-orang itu berdiri
dan menatap rembulan yang telah
bersinar kembali, dan berubahlah ketakutan
mereka menjadi kedamaian,
kekhawatiran mereka menjadi kegembiraan,
dan mulailah mereka meloncat-
loncat menari-nari sambil memujimuji
Tuhan, meniup terompet-terompet
yang terbuat dari besi dan tembaga,
memenuhi kesunyian lembah itu
dengan keramaian dan suara gaduh
mereka…
Pada malam itu juga pemimpin
suku memanggil Louis dan berkata
kepadanya: Pada malam ini kamu telah
memberi sesuatu yang belum per-
86 | Kahlil Gibran
nah diberikan oleh orang lain sebelum
kamu, kamu tahu rahasia-rahasia
hidup yang di antara kami tidak
ada yang tahu selain kamu, karena
itu bergembiralah dan berbanggalah
kamu karena kamu mulai saat ini adalah
orang kepercayaan di baris pertama
setelah aku. Aku adalah yang
paling perkasa dan paling berkuasa
di suku ini dan kamu adalah orang
yang paling banyak pengetahuannya
dan hikmahnya di antara mereka,
kamu adalah perantara antara aku
dan Tuhan-Tuihan, kamulah yang
akan memberitahukan kehendak
mereka, menjelaskan untukku perbuatan-
perbuatan mereka dan rahasiarahasia
mereka, dan kamulah yang
akan mengajarkan kepadaku apa
yang harus aku kerjakan agar aku
memperoleh keridhaan dan cintanya
Tuhan-Tuhan.
Louis berkata: Semua yang dikatakan
Tuhan-Tuhan kepadaku dalam
Sang Pujaan | 87
mimpi akan aku katakan dalam alam
nyata, apa yang aku lihat dari halhal
yang akan terjadi akan aku jelaskan
kepadamu, karena aku adalah
perantara antara kalian dan Tuhan.
Pemimpin suku itu pun merasa
senang. Lalu Louis diberi dua ekor
kuda 70 domba dan 70 ekor biri-biri,
lalu kepala suku berkata kepadanya:
Anggota suku kita akan membuatkan
sebuah rumah untukmu yang menyerupai
rumahku, dan mereka pada setiap
musim panen akan menyerahkan
sebagian hasil bumi dan buah-buahan
kepadamu, kamu akan hidup sebagai
tuan, berkecukupan dan terhormat.
Saat itu Louis telah bangkit dan berdiri
untuk pergi lalu kepala suku menghentikan
dan bertanya seraya berkata:
Tetapi apa itu Tuhan yang kamu
sebut sebagai Tuhan Kejahatan? Siapa
Dia yang berani melawan Tuhan
Malam yang mulia? Sesungguhnya
kami belum pernah mendengarnya
88 | Kahlil Gibran
sama sekali dan kami tidak tahu akan
keberadaannya.
Louis mengerutkan dahinya lalu
menjawab seraya berkata: Wahai
Tuan, sesungguhnya Tuhan Kejahatan
itu sudah ada sejak dulu kala sebelum
kemunculan manusia, karena semua
Tuhan hidup dalam alam kedamaian
dan penuh cinta kasih di
Kota Jauh di balik Galaksi Bimasakti.
Dan konon Tuannya Tuahn-Tuhan
yaitu bapaknya Tuhan-Tuhan, la tahu
apa yang tidak diketahui Tuhan-Tuhan
yang lain, la menyimpan beberapa
rahasia ketuhanan di balik Wahyu
Azali. Lalu pada masa ketujuh pada
tahun ke-12 datanglah Ba’tar dialah
yang membenci Tuhan Terbesar, dia
berdiri di depan ayahnya dan berkata:
Kamu beriakukan untuk dirimu
kekuasaan mutlaq atas semua makhluk,
menyembunyikan dari kami
rahasia-rahasia alam, wahyu dan zaman?
Dan bukankah kami ini anak-
Sang Pujaan | 89
anakmu, laki-laki dan perempuan,
dan kami adalah orang-orang yang
bersatu untukmu karena kekuasaanmu
dan hari kelahiranmu?
Karena itu Tuhannya Tuhan-Tuhan
marah dan menjawab: Aku akan
menjaga Kekuatan Yang Pertama,
kekuasaan dan rahasia-rahasia asasi
sampai kapanpun, akulah Yang Maha
Awal dan akulah Yang Maha Akhir.
Lalu Ba’thar berkata: Kamu tidak
membagi kekuatanmu dan kekuasaanmu
kepadaku. Kamu selalu berbuat
sewenang-wenang padaku, anakanakku,
cucu-cucuku, dengan kekuatanmu
dan kekuasaanmu. Tuhannya
Tuhan-Tuhan pun saat itu juga berdiri
tegak di atas singgasananya dan pengawal-
pengawalnya menghunus pedang
dan memasang perisai di atas
matahari, dengan suara yang menggetarkan
seluruh sisi alam Dia berteriak
sambil berkata: Hei penindas
yang jahat turunlah ke dunia tempat
90 | Kahlil Gibran
di mana kegelapan dan penderitaan
akan melumat yang terusir lagi sesat
sampai matahari berubah menjadi
abu dan bintang-bintang berubah
menjadi anai-anai berhamburan.
Pada saat itu turunlah Ba’thar dari
alam Tuhan-Tuhan menuju alam dunia
tempat di mana roh-roh kotor tinggal.
Dan Ba’thar bersumpah atas rahasia
keabadiannya bahwasanya dia
sepanjang masa akan selalu melawan
Tuhannya Tuhan-Tuhan, saudara-saudaranya
dan akan selalu mencampuri
urusan setiap orang yang mencintai
Bapaknya atau mencampuri urusan
orang yang mencari saudara-saudaranya.
Peminpin suku itu berkata, dahinya
mengkerut dan wajahnya nampak
kosong terbengong-bengong: Jadi
nama Tuhan Kejahatan itu Ba’thar?
Louis menjawab: Nama Ba’thar
itu saat ia ada di alam Tuhan-Tuhan,
namun setelah ia turun ke bumi
Sang Pujaan | 91
berubah menjadi memiliki beberapa
nama di antaranya Ba’lazbul, Iblis,
Sathanail, Balyal, Zamyal, Morih,
Abdun dan Syetan. Dan yang paling
dikenal adalah syetan.
Lalu peminpin suku itu mengulang-
ulang kata syetan beberapa kali
dengan suara yang membuat gemetaran
ranting-ranting kering seolah
diterpa angin, kemudian pemimpin
suku itu berkata: Kenapa oh Tuhan,
syetan itu membenci manusia hanya
karena dia benci kepada Tuhan?
Louis menjawab: Sesungguhnya
syetan membenci manusia dan mengganggu
manusia itu dikarenakan
manusia itu termasuk anak turun dan
saudaranya Tuhannya Tuhan-Tuhan.
Peminpin suku berkata bingung:
Kalau begitu syetan adalah pamannya
manusia?
Louis pun menjawab ucapanucapan
yang dibuat-buat: Ya benar
Tuan, akan tetapi syetan adalah
92 | Kahlil Gibran
musuhnya manusia yang terbesar,
pendendam terhadap manusia dan
selalu menjejali hari-hari manusia
dengan keluh kesah dan malammalam
mereka dengan mimpi-mimpi
yang menakutkan. Dialah kekuatan
yang mengarahkan badai ke gubuggubug
manusia, membakar tanamantanaman
mereka dengan hawa yang
sangat panas, yang menggigit tenunan-
tenunan mereka dengan kemalasan,
dan mengelus-elus tubuhtubuh
mereka dengan penyakit-penyakit.
Syetan adalah Tuhan kuat, yang
jahat lagi menjijikkan, dia tertawa di
atas penderitaan kita dan mendendam
atas kegembiraan kita. Karena
itu kita harus paham betul dengan
tabiat-tabiatnya agar kita terhindar
dari kejahatannya, dan kita musti
memahami perilaku-perilakunya agar
kita jauh dari jalan kesesatannya.
Pemimpin suku itu menyandarkan
kepalanya dan berbisik seraya
Sang Pujaan | 93
berkata: Kini aku tahu apa yang membuatku
merasa takut, berupa kekuatan
aneh itu yang mengarahkan badai
ke rumah-rumah kita, menggigit tenunan-
tenunan kita, dengan kemalasan,
semua orang saat ini akan tahu
atas apa yang telah aku ketahui,
mereka pasti akan berterima kasih
kepadamu karena kamu telah memberitahukan
kepada mereka rahasiarahasia
musuh kita yang kuat itu, dan
kamu telah mengajarkan kepada
mereka bagaimana mereka menghindar
dari jerat-jeratnya.
Louis pun pergi dari hadapan
pemimpin suku itu dan pergi ke tempat
berteduhnya dengan gembira karena
kecerdasan akalnya, bangga dengan
imajinasinya yang melengahkan.
Adapun pemimpin suku dan anggota
suku itu pulang ke rumah masingmasing,
mereka berbolak-balik di tempat
tidur mereka diliputi bayang-bayang
menakutkan dan mimpi-mimpi
94 | Kahlil Gibran
Sang Pujaan | 95
mengerikan.
Syetan yang terluka itu berhemti
bicara dan al-Khauri Sam’an menatap
syetan sementara di matanya terpancar
rasa bingung dan ketakutan
dan di kedua bibirnya terukir senyum
kematian.
Kemudian syetan mulai bicara
lagi: Demikianlah munculnya kerahiban
di bumi dan demikianlah keberadaanku
yang menjadi sebab atas
kemunculan kerahiban itu. Dan Louis
adalah orang pertama yang menjadikan
permusuhanku sebagai sebuah
pekerjaan. Dan pekerjaan ini menjadi
sangat digemari setelah kematian
Louis di tengah anak-anak dan cucucucunya,
lalu aku tidur dan bersembunyi
sampai kerahiban itu menjadi
sebuah ilmu yang dikuduskan, tidak
ada yang bisa mengambilnya kecuali
orang yang berakal cerdas, berjiwa
mulia, hati yang suci dan daya imajinasi
yang luas. Di kalangan bangsa
Babilon orang-orang bersujud sebanyak
tujuh kali di depan seorang rahib
yang memerangiku dengan jampijampinya.
Di Niniveh orang-orang
tunduk kepada orang yang mengklaim
dirinya mengetahui betul akan rahasiarahasia
yang katanya seperti lingkaran
emas di antara Tuhan-Tuhan dan
manusia. Di Tibet orang-orang menyebut
orang yang berperang melawanku
dengan sebutan Anak Matahari
dan Bulan. Di Ephesus dan Antioch
orang menaruh anak-anak kecil
mereka di terik matahari agar memusuhiku.
Di Jerusalem dan Roma
orang-orang menyerahkan roh mereka
ke dalam genggaman orang yang
bisa mencari-cari kebencianku dan
kekafiranku. Di setiap kota di depan
matahari konon namaku dibicarakan
oleh ahli-ahli agama, seni, ilmu dan
filsafat. Karena itu haikal tidak dibangun
kecuali dalam perlindunganku,
pertapaan-pertapaan dan institut-
96 | Kahlil Gibran
institut tidak akan muncul tanpa adanya
kemunculanku, istana-istana dan
pesanggrahan-pesanggrahan tidak
akan didirikan kecuali karena tingginya
rumahku. Aku adalah Kehendak
yang dilahirkan Kehendak dalam diri
manusia, aku adalah inspirasi yang
menumbuhkan kecerdikan dalam pikiran-
pikiran manusia, dan aku adalah
tangan misterius yang menggerakkan
tangan-tangan manusia. Aku adalah
syetan azali nan abadi aku adalah
syetan yang memusuhi manusia agar
mereka tetap hidup. Dan jika kalian
menghancurkan kedudukanku terhadap
mereka, maka kecerdasan fikiran
mereka akan terhenti, roh-roh
mereka akan membunuh kemalasan
dan tubuh-tubuh mereka akan kehilangan
ketentraman. Aku adalah syetan
azali nan abadi. Aku adalah badai
kilat berguntur, aku bertiup dalam
otak-otak kaum lelaki dan dada kaum
wanita, dan menyapu bersih kecen-
Sang Pujaan | 97
derungan-kecenderungan mereka
pada biara-biara dan kuil-kuil untuk
memujaku karena mereka takut kepadaku
atau mereka pergi ke tempat
keramat atau tempat judi untuk menyenangkan
aku dengan penyerahan
diri mereka kedalam kehendakku.
Karena itu seorang pendeta berdoa
di tengah kesunyian malam agar aku
menjauh dari tempat tidurnya, dia itu
seperti pelacur yang memanggilmanggilku
agar aku mendekati ranjangnya.
Aku adalah syetan azali nan
abadi. Aku adalah anak biara-biara
dan kuil-kuil yang berazaskan ketakutan,
akulah pendiri bius-bius kesenangan
dan rumah-rumah dosa yang berazaskan
nafsu syahwat dan kenikmatan.
Jika wujudku hilang, maka hilanglah
dan matilah pula pengalaman
hidup manusia dan dengan kematiannya
maka hilanglah kekuatan ma’nawi
itu yang menjadikan manusia selalu
waspada, dan dengan kematian wu-
98 | Kahlil Gibran
jud syetan maka akan hilanglah sebab
yang mendorong manusia untuk berdoa,
berpuasa dan beribadah. Wujud
syetan harus hidup karena jika kamu
membunuhnya maka manusia akan
tenggelam dengan hilangnya rasa
takut mereka pada neraka jahim, dan
mereka akan salah dalam ibadah dan
larut dalam dosa. Karena itu wujud
syetan harus tetap hidup, karena dengan
tetap hidup, maka manusia akan
terbebas dari kehinaan. Adapun aku,
aku akan mengorbankan kebencianku
untukmu di atas pengorbanan cintaku
pada manusia.
Lalu syetan tertawa seolah memancarnya
duri landak dan berkata:
Alangkah cerdiknya kamu, betapa
baiknya kamu hei Bapak yang mulia,
betapa luasnya pengetahuanmu akan
hal-hal transendental (ketuhanan)?
Ini, lihatlah aku telah temukan -berkat
kekuatan pengetahuanmu- sebab
keberadaan wujudku yang aku tidak
Sang Pujaan | 99
pernah tahu sebelumnya. Sekarang
aku tahu bahwa setiap diri kita adalah
sebab-sebab indrawi dan transenden
yang telah membuat kita ada
dan cinta kita pada awal penciptaan.
Dan sekarang kita harus pergi meninggalkan
tempat ini. Mendekatlah
hei saudaraku, kemari dan bawalah
aku ke rumahmu. Aku bukanlah orang
yang berat badannya lihatlah malam
telah gelap setelah separuh darahku
mengalir bahkan lembah ini juga telah
menjadi hitam karena darahku.
Al-Khauri Sam’an mendekati syetan,
mengulurkan kedua tangannya,
mengikatnya dengan sabuknya lalu
mengikat syetan di atas punggungnya
dan berjalan menuju perkampungan.
Di antara lembah-lembah yang
tertutupi kesunyian, binatang-binatang
kecil menghiasi malam. Al-Khauri
Sam’an berjalan menuju desanya
menundukkan punggungnya di bawah
100 | Kahlil Gibran
haikal aib, pakaiannya yang hitam
dan jubah panjangnya telah menjadi
kotor oleh tetesan darah yang mengalir
dari luka-luka syetan.***
Sang Pujaan | 101
Jagad Raya dan
Isinya
ku duduk di sebuah tanah lapang
ketika fajar senja memadu satu di jingga
langit, sambil bercengkrama dengan
Semesta, sementara Manusia
beristirahat dengan teduh di bawah
kerudung lelapnya. Aku terbaring di
atas rumput hijau dan melakukan semedi
tentang persoalan-persoalan
hidup: “Apakah Kebenaran adalah
Keindahan? Apakah Keindahan ada-
102 I Kahlil Gibran
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
lah Kebenaran?”
Dan semesta pikiranku kutemukan
diriku terpencil dari umat manusia,
dan khayalanku membongkar tirai
mated yang menyembunyikan telaga
sukmaku. Jiwaku mengembara
menyusuri keghaiban Semesta, dan
telingaku terbuka oleh bahasa keajaibannya.
Setelah aku duduk terpekur, aku
merasakan semilir angin melintasi
ranting-ranting pohon, dan aku mendengar
suara merintih seperti erangan
seorang anak yatim piatu yang tersesat.
“Mengapa engkau berkeluh kesah,
hai sepoi angin yang lembut?”
aku bertanya.
Dan angin sepoi-sepoi itu menjawab,
“Karena aku telah datang dari
kota yang bercahaya dengan panas
mentari, namun benih-benih wabah
penyakit dan pencemaran mencabikcabik
jubah kebesaranku. Pantaskah
Sang Pujaan | 103
kamu menyalahkanku karena berduka
cita?”
Kemudian aku menatap pada
wajah-wajah bunga yang ternodai
oleh airmata, dan aku mendengarkan
rintihan mereka yang lembut. Aku
bertanya, “Mengapa kalian menangis,
bungaku yang indah?”
Salah satu bunga mengangkat
kepalanya yang lembut dan berbisik,
“Kami menangis karena Manusia
akan datang untuk memotong kami,
lalu menawarkan kami untuk dijual
di pasar-pasar kota.”
Bunga yang lain menambahkan,
“Di waktu semesta, ketika kami layu,
kami dilemparkan ke atas tumpukan
sampah. Kami menangis karena tangan
Manusia yang bengis merenggut
kami dari taman.”
Dan aku mendengar aliran sungai
meratap seperti seorang janda yang
meratapi kematian suami dan putraputrinya
dan aku bertanya, “Menga-
104 | Kahlil Gibran
pa engkau menangis, aliran sungaiku
yang suci?”
Dan aliran sungai itu menjawab,
“Karena aku dipaksa untuk pergi ke
kota di mana Manusia menodai kesucianku
dan menolakku dengan angkuh
untuk menjadikanku minuman
yang menguatkan, dan menjadikan
aku sebagai tempat penampungan
sampah, mencemari kesucianku serta
mengubah kebaikanku menjadi dekil.”
Dan aku mendengar kicau burung
yang merintih, dan aku bertanya,
“Mengapa kalian menangis, burungburungku
yang cantik?”
Salah satu dari burung itu terbang
mendekat, hinggap di sebuah ranting
dan bertutur, “Anak-anak Adam akan
segera datang ke ladang ini dengan
senapan-senapan mereka yang mematikan
dan membidikkannya ke tubuh
kami, seolah kami adalah monster
yang mengancam kehidupan
Sang Pujaan | 105
mereka. Saat ini kami memilih daundaun
yang dapat menaungi kami sebagai
tempat perlindungan, karena
kami tak tahu kemana lagi harus lari
dari kemurkaan manusia. Kematian
mengintai kami kemana pun kami
pergi.”
Sekarang matahari terbit dari belakang
puncak pegunungan, dan
menyepuh puncak-puncak pepohonan
dengan pelangi. Aku memandang
keindahan ini dan bergumam pada
diriku sendiri, “Mengapa Manusia
harus menghancurkan apa yang telah
di bangun oleh Semesta?”***
106 | Kahlil Gibran
Kecantikan
yang Luar Biasa
Kemanakah kamu hendak berjalan
bersamaku, hei yang cantik luar biasa?
Sampai kapankah aku akan
mengikutimu di atas jalan yang kasar,
yang ada di antara tebing-tebing batu,
yang penuh dengan duri-duri, yang kita
daki dengan kaki kita menuju puncak
ketinggian dan yang membawa kita
turun ke dasar lembah yang terdalam?
Sang Pujaan | 107
Aku telah berpegang erat pada
ujung pakaianmu dan berjalan di belakangmu
seperti anak kecil yang berjalan
di belakang ibunya, sambil melupakan
mimipi yang terjadi padaku,
berjalan berputar-putar menggapai
keindahanmu, meghalau arak-arakan
awan yang berterbangan di sekitar
kepalaku dan tertarik oleh kekuatan
yang bersembunyi dalam tubuhmu.
Berhentilah sejenak agar aku
melihat keelokan wajahmu, tataplah
aku lekat-lekat agar aku melihat
dalam matamu itu rahasia-rahasia
hatimu dan aku mengerti akan roman
wajahmu yang menyiratkan ratapanratapan
jiwamu.
Berhentilah sebentar hei yang
memepesona,aku telah bosan berjalan
dan jiwaku telah gemetaran karena
kengerian-kengerian yang ada di jalan
ini. Berhentilah, kita telah sampai di
penghujung jalan di mana kematian
akan memeluk kehidupan, dan aku
108 | Kahlil Gibran
tidak akan menempuh jalan lain sampai
jiwaku mengerti akan kehendakkehendak
jiwamu dan hatiku memahami
isi lorong hatimu.
***
Dengarkanlah hei peri yang mempesona.
Kemarin aku adalah burung yang
bebas, aku berpindah-pindah di antara
sungai-sungai dan aku berenang
di angkasa dan di astas pucuk-pucuk
ranting-ranting. Dan saat sore hari
aku mengimpikan istana-istana dan
haikal-haikal yang ada di kota awan
warna-warni yang dibangun oleh matahari
saat senja hari dan merubuhkannya
sebelum terbenam.
Bahkan kemarin aku seperti ide,
aku berjalan sendirian di belahan
timur dan belahan barat bumi, bergembira
dengan keindahan-keindahan
hidup dan kenikmatan-kenikmatannya,
menguraikan lipatan-lipatan wujud
dan rahasia-rahasianya.
Sang Pujaan | 109
Bahkan kemarin aku seperti mimpi,
aku merayap di bawah sayap
malam dan aku masuk ke dalam bilik
gadis-gadis perawan malalui celahcelah
jendela lalu aku memain-mainkan
perasaan mereka, kemudian aku
berdiri di samping ranjang pemudapemuda
lalu aku terbang-terbangkan
hasrat-hasrat mereka, kemudian aku
duduk di dekat balai-balai orang-orang
tua renta dan aku buai-buai pikiranpikiran
mereka.
Dan hari ini, setelah aku bertemu
denganmu hei peri yang mempesona,
dan aku telah terkena racun yang
melekat di kedua tanganmu, aku telah
menjadi seperti tawanan, kamu
tarik ikatan-ikatanku ketempat yang
aku tidak mengenalnya, bahkan menjadi
seperti orang mabuk karena kebanyakan
minum arak yang merampas
kehendakku dan genggaman telapak
tangan yang menyambar wajahku.
110 | Kahlil Gibran
Tetapi, berhentilah hei peri yang
mempesona sebentar saja, dan lihatlah
kekuatanku yang telah pulih dan
ikatan-ikatan yang ada padaku yang
mengikat kedua kakiku telah terputus
dan aku telah pecahkan gelas yang
dari gelas itu aku telah meminum racun
yang kamu anggap baik. Lalu apa
yang kamu mau untuk kami kerjakan
dan di atas jalan mana yang kamu
kehendaki untuk kami lalui?
Telah aku tarik kembali kebebasanku,
karena itu apakah kalmu
rela terhadapku sebagai teman yang
merdeka, terbang berputar-putar
menuju wajah matahari dengan membawa
pelupuk-pelupuk mata yang
beku da menggenggam api dengan
jari-jari tanpa merasa gemetaran?
Aku telah bentangkan sayapku
yang kedua karena itu apakah kamu
mau menamaniku menghabisakan
waktu dengan terbang seperti burung
nazar melintas di antara gunung-gu-
Sang Pujaan | 111
nung dan melewatkan malam dengan
mendekam seperti singa di padang
rumput?
Apakah kamu merasa puas dengan
cinta seorang lelaki yang menjadikan
cinta sebagai teman dan apakah
kamu merasa segan dengan cinta
itu sebagai seorang tuan?
Apakah kamu bisa menerima cintanya
hati yang kehausan, yang tidak
tunduk, yang menyala-nyala namun
dia tidak mencair?
Apakah kamu merasakan ketenangan
bersama keinginan-keinginan
jiwa yang gemetaran di depan
angin kencang namun dia tidak
rubuh, dan terbang bersama angin
puyuh namun dia tidak terpental dari
tempatnya?
Apakah kamu rela menganggap
aku sebagai sahabat yang tidak menindas
dan tidak pula ditindas?
Kalau begitu satukanlah kedua
tanganku ini dengan kedua tanganmu
112 | Kahlil Gibran
yang indah itu, dan tubuh ini peluklah
dengan kedua lenganmu yang lembut
itu, dan mulutku ini ciumlah dengan
ciuman panjang lagi dalam yang mengulum
kalbu.***
Sang Pujaan | 113
Narasi
i tepi sungai itu, di bawah kerimbunan
pohon kenari dan willow,
duduklah seorang anak petani sambil
memandang arus air yang mengalir
tenang dan syahdu. Seorang anak
muda yang tumbuh besar di antara
perladangan, di mana segala sesuatunya
mempercakapkan cinta. Cabang-
cabang berpelukan, bunga-bunga
bergoyang, burung-burung melompat-
114 | Kahlil Gibran
lompat. Alam beserta isinya mengkhotbahkan
ajaran Roh.
Adalah seorang pemuda dua puluh
tahunan usia yang kemarin melihat
seorang gadis di antara gadis-gadis
di dekat sebuah perigi, kemudain
ia mencintainya. Namun setelah ia
tahu dia adalah seorang puteri raja,
kecewalah hatinya. Ia hanya bisa
mengeluh pada dirinya sendiri. Tapi
celaan tak bisa memalingkan hati dari
cinta, ataupun memalingkan jiwa dari
kebenaran. Manusia, di antara hati
dan jiwanya, laksana tunas sebuah
ranting di antara angin utara dan angin
selatan.
Begitu ia memandang, dilihatnya
bunga violet di antara bunga kanigara.
Didengarnya burung bulbul bercakap
dengan burung murai. Ia
menangisi kesendirian dan kesepiannya.
Saat-saat cintanya melintas di
depan mata, seperti hantu yang berlalu,
maka dia pun berkata dengan
Sang Pujaan | 115
perasaan mengalir, berpadu dengan
air mata dan kata-katanya.
“Begitulah cinta menghinaku,
demikian pula ia menjadikanku tercela,
menggiringku pada suatu batas
di mana harapan dianggap sebuah aib
dan dambaan berarti nista. Cinta yang
kupuja telah mengangkat hatiku ke
istana sang raja sekaligus menjatuhkanku
ke gubuk petani. Berjalan seiring
jiwaku pada kecantikan seorang bidadari
yang dijaga para lelaki dan
dikawal oleh derajat yang agung.”
“Oh Cinta, aku seorang patuh,
lalu apakah yang kauinginkan? Telah
kutelusuri jalanmu yang berapi dan
telah menghanguskanku. Telah kubuka
mata dan tak kulihat melainkan
kegelapan. Telah kubuka mulutku tetapi
aku tak dapat mengucapkan apapun
kecuali mengucapkan putus asa. Kerinduanku
memelukku, aduhai cinta,
dengan kelaparan sukmawi dan tak
akan selesai melainkan dengan kecup-
116 | Kahlil Gibran
an kekasih. Aku lemah, wahai cinta,
sementara engkau perkasa, lalu kenapa
kaumusuhi aku? Mengapa aku
kaudera sedang engkau adil dan aku
merdeka? Mengapa aku kauhina sementara
engkau adalah penolongku
satu-satunya? Mengapa aku kaukucilkan
sedangkan engkau adalah keberadaanku?”
“Maka apabila darahku akan
mengalir di luar karsamu, tumpahkanlah.
Apabila kakiku akan melangkah
di selain jalanmu, lumpuhkanlah.
Lakukan apa maumu pada raga ini
tapi biarkan jiwaku bahagia pada perladangan
ini, berlindung di bawah
naungan sayap-sayapmu.”
“Sungai-sungai mengalir menuju
kekasihnya, lautan. Bunga-bunga
tersenyum pada pencintanya, cahaya.
Dan awan-awan turun menuju dambaannya,
lembah. Sedang aku, pada
diri ini ada sesuatu yang tak dimengerti
sungai, tak didengar bunga-bunga
Sang Pujaan | 117
dan tak dipahami awan-gemawan.
Dan engkau lihat aku sendiri dalam
bencanaku, sendiri dalam cinta menyala,
jauh dari dia yang tak menghendakiku
menjadi prajurit di dalam
bala tentara ayahnya serta tak rela
bila aku menjadi seorang abdi dalam
istananya.”
Pemuda itu diam sejenak. Seolaholah
ia ingin belajar bicara pada gemercik
air sungai dan gemerisik daundaun
di pepohonan. Lalu ia kembali
bicara sendirian.
“Duhai engkau pemilik nama
yang aku takut, bahkan untuk memanggilnya
sekalipun. Engkau yang
terhalang pandang dariku oleh tirai
keagungan dan dinding kemuliaan.
Duhai bidadari yang akan kujumpai
di alam baka, di mana semuanya dipandang
sederajat. Duhai insan yang
dianugerahi tenaga di mana para abdi
membungkuk di hadapannya, pintupintu
gudang dan tempat ibadah ter-
118 | Kahlil Gibran
buka untuknya, engkau kuasai hati
yang dikeramatkan cinta, telah kauperbudak
jiwa yang dimuliakan Tuhan,
telah kautahan akal yang kemarin
merdeka seperti perladangan ini,
maka jadilah hari ini ia menjadi
tawanan bagi belenggu cinta menyala
ini.”
“Aku melihatmu, duhai jelita,
maka aku tahu sebab kedatanganku
ke dunia ini. Dan setelah kutahu keagungan
pangkatmu dan kehinaan diriku,
maka aku sadar bahwa ada rahasia-
rahasia Tuhan yang tak dapat
dimengerti oleh manusia, serta jalan
menuju suatu tempat di mana cinta
memutus tidak dengan hukum manusia.”
“Setelah kutatap sepasang matamu
aku menjadi yakin bahwa kehidupan
dunia ini adalah taman Firdaus
dengan hati manusia sebagai pintu
gerbangnya. Dan begitu kulihat kemuliaanmu
dan kehinaanku, ber-
Sang Pujaan | 119
tarung seperti pertarungan mastodon
dan serigala, aku tahu bahwa dunia
ini tidaklah pantas kuhuni. Aku menduga,
setelah kulihat engkau duduk
di antara wanita-wanita temanmu,
serupa mawar di antara bunga-bunga,
bahwa pengantin mimpiku telah menjelma
sosok manusia sepertiku. Dan
sesudah kutahu kemuliaan ayahmu
aku sadar bahwa mawar memiliki duri
yang dapat melukai jemari. Segala
sesuatu yang telah disatukan mimpi,
kesadaran akan memisahkannya…”
la bangkit lalu melangkah menuju
perigi dengan dua tangan terjurai.
Luluh hatinya. la lukiskan putus harapaannya
dengan kalimat-kalimat ini:
“Wahai maut, bebaskan aku, karena
bumi di mana onak duri mencekik
leher bunga-bunganya, tidaklah
pantas dihuni. Kemari dan bebaskanlah
diriku dari hari-hari di mana ia
turunkan cinta dari singgasana keagungannya
dan menggantinya dengan
120 | Kahlil Gibran
kemuliaan tahta. Kemarilah duhai
maut, karena keabadian lebih pantas
sebagai tempat pertemuan dua
kekasih. Di sanalah, kematian, kekasihku
menunggu. Di sanalah kami
akan menyatu.”
Malam telah turun ketika ia mencapai
mata air. Matahari menarik
selempang-selempang keemasannya
dari pedataran itu. Dan duduklah ia
dengan air mata merana, menetes di
rerumputan yang kemarin dilalui sepasang
kaki putri raja itu. Ia menundukkan
kepala ke dada, seakan-akan
khawatir hatinya keluar.
Pada kejap itu, dari balik pohonpohon
willow, tampaklah seorang gadis
menjinjing ujung keliman gaunnya
di atas rumput, lalu berhenti di hadapan
pemuda itu dan menaruh tangannya
yang suterawi pada kepalanya.
Pemuda itu kemudian menatapnya
dengan pandangan orang tidur yang
terbangun oleh sinar matahari. Ia
Sang Pujaan | 121
melihat putri raja itu tertegun di hadapannya.
la pun berlutut seperti halnya
Musa ketika melihat semak-semak
menyala.
Saat ia hendak berkata, ia bungkam.
Dan air matanya yang tergenang
itulah sebagai ganti mulutnya.
Gadis itu lalu memeluknya,
mengecup bibirnya, mencium matanya
dan menghisap air matanya yang
hangat lalu berkata dengan suara yang
melebihi lembut alunan seruling.
“Telah kulihat engkau, kekasihku,
dalam mimpi-mimpiku. Kulihat wajahmu
dalam kesendirianku dan keterpisahanku.
Engkaulah kekasihku
yang hilang dan belahan jiwaku yang
rupawan, terpisah manakala aku ditakdirkan
lahir ke dunia ini. Aku datang
sembunyi-sembunyi demi menjumpaimu.
Dan kini lihatlah, engkau
berada dalam rengkuhanku. Tak usah
cemas karena telah kutinggalkan
kemuliaan ayahku untuk mengikutimu
122 | Kahlil Gibran
ke penghujung bumi sekalipun, bersamamu
aku akan mereguk cawan
hidup dan kematian. Bangkitlah
kekasihku, mari kita pergi menuju ternpat
yang jauh dari manusia.”
Sepasang asyik-masyuk itu pun
berjalan di antara pepohonan yang
disembunyikan tirai-tirai malam, tapi
tidak terhijab oleh para pengintai sang
raja dan bayang-bayang kegelapan.
Di sana, di penghujung negeri,
secara kebetulan para mata-mata raja
menemukan sepasang kerangka
manusia. Pada leher salah satunya
terdapat kalung emas. Di dekat mereka
terdapat sebuah batu dengan aksara
sebagai berikut; Cinta telah menyatukan
kami, siapa mampu memisahkan
kami? Kematian telah merenggut
kami, siapa sanggup mengembalikan
kami?***
Sang Pujaan | 123
Demi
Kesucian Sejati
ntuk mencegah kian banyaknya
jumlah korban jiwa yang jatuh dan
amunisi, kita harus mundur dalam
pola yang teratur ke dalam kota yang
tidak dikenal musuh dan di sana kita
bangun strategi baru lagi,” kata sang
jenderal dengan wajah tegang karena
tidak ada jalan lain kecuali mengumandangkan
perintah itu. “Kita akan
berjalan menembus hutan belantara.
124 | Kahlil Gibran
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
Itu akan lebih baik daripada kita kemudian
terhalang oleh musuh. Kita
akan menuju sebuah markas, barulah
di sana kita akan beristirahat dan
menambah bahan makanan.”
Balatentaranya menyetujui, lantaran
dalam situasi genting seperti itu
tidak ada pilihan lain yang lebih baik.
Mereka berjalan menembus rimba
belantara selama empat hari di bawah
berbagai tekanan teriknya siang, dinginnya
malam menusuk tulang, haus
dan lapar. Sampai suatu ketika mereka
melihat sebuah bangunan yang
menjulang seperti sebuah kastil kuno.
Pintu gerbangnya laiknya sebuah kota
bertembok. Pemandangan itu membangkitkan
kegembiraan di hati. Mereka
menyangka bahwa inilah markas
yang mereka tuju untuk beristirahat
dan mengumpulkan makanan.
Sewaktu mereka membuka gerbang,
sampai beberapa saat tak ada
seorang pun yang menyembut. Lalu,
Sang Pujaan | 125
seorang wanita berjubah hitam, di
mana wajahnya merupakan satu-satunya
bagian tubuh yang tampak,
menyembul di pintu.
la memberi penjelasan kepada
jenderal bahwa tempat itu adalah sebuah
biara khusus wanita yang harus
diperlakukan seperti lazimnya. Tidak
boleh ada kekerasan pada para biarawati.
Jenderal memberikan jaminan
dan meminta makanan untuk balatentaranya
pada wanita itu. Mereka
beristirahat di sebuah sisi biara itu.
Jenderal itu adalah sosok lelaki
dengan usia sekitar empat puluh
tahunan -seorang yang keji dan tak
pernah menikah. la berhasrat mencari
kesenangan dengan melampiaskannya
pada salah seorang biarawti,
akibat tertekan oleh kekhawatiran selama
pertempuran. Nafsu jadah itu
mendorongnya mengotori tempat suci
itu, tempat di mana para biarawati
berhubungan dan memanjatkan doa
126 | Kahlil Gibran
pada Tuhan tanpa lelah, tempat yang
jauh dari dunia yang kacau dan balau.
Akibat nafsu itu, jenderal lupa
atas janjinya pada pemimpin biara.
la memanjati sebuah tiang yang
menuju ke sebuah ruangan yang dihuni
seorang biarawati yang sempat
dilihatnya melalui jendela. Kehidupannya
yang tenggelam dalam doa dan
pengasingan sama sekali tidak pernah
berhasil mengikis gurat-gurat kecantikan
wajah biarawati itu. la muncul
laiknya pengembara di sebuah dunia
yang penuh durja ke tengah rimba
yang memungkinkannya menyembah
Tuhan tanpa gangguan apa pun. Jenderal
itu mencabut pedangnya dan
mengancam akan membantai biarawati
itu jika berteriak atau berupa
meminta pertolongan.
Biarawati itu hanya tersenyum
dan diam, seakan-akan ia sengaja ingin
memuaskan tuntutan jenderal itu.
“Duduklah dan beristirahatlah, kuli-
Sang Pujaan | 127
hat kau sangat kelelahan,” ujarnya
setelah menataplelaki keji itu.
Merasa yakin atas mangsa di
hadapannya, jenderal itu duduk di
dekatnya.
“Aku kagum padamu, Prajurit,
akan keberanianmu melemparkan dirimu
ke tengah pertempuran yang
mengincarkan maut,” lanjut biarawati
itu.
Jenderal yang pengecut dan
bodoh itu menyahut, “Situasilah yang
memaksa kami memasuki medan perang.
Seumpama saja orang-orang
luas tidak akan memanggilku pengecut,
tentu aku tak mungkin sudi
memimpin balatentara durja itu.”
“Apakah kau tidak tahu bahwa di
tempat kudus ini kami memiliki ramuan
ajaib yang akan melindungi tubuhmu
dari runcing panah dan tajam
pedang bila kau oleskan?” sahut biarawati
itu seraya tersenyum.
“Betulkah? Di mana ramuan itu?
128 | Kahlil Gibran
Tentu sekarang ini aku sangat membutuhkannya!”
“Tentu aku sudi memberikan sebagiannya
padamu.”
Jenderal itu sama sekali tidak
meragukan ucapan biarawati itu, lantaran
ia dilahirkan di antara kelompok
orang yang masih sangat mempercayai
takhayyul. Biarawati menjamah
sebuah botol yang berisi cairan
putih. Jenderal itu mulai sangsi
menyaksikannya. Namun kemudian
biarawati itu mengeluarkan sedikit
cairan dari botol itu, lalu memoleskannya
ke lehernya sendiri dan berucap,
“Aku akan membuktikannya pdamu
bila kau tak mempercayaiku. Lolos
pedangmu, tebaskan ke leherku
sekuat tenagamu!”
Akhirnya jenderal yang memimpin
balatentara perang itu menebaskan
pedangnya sekuat tenaga, kendati sebenarnya
ia ragu. Ia melakukannya karena
terus ditekan oleh biarawati itu.
Sang Pujaan | 129
Di akhir tebasannya, disaksikannya
kepala biarwati itu menggelinding
dari tubuhnya yang rebah ke tanah
tanpa bergerak sedikit pun. Sontak ia
menyadari bahwa semua ini hanyalah
tipu muslihat biarawati itu untuk
mempertahankan diri dari perbuatan
nista itu.
Sang biarawati yang perawan mati…
Sementara sang jenderal menyaksikan
dua benda di hadapannya: mayat
sang perawan dan cairan putih
itu. Ia lantas menedang pintu karena
kehilangan akal, berlari keluar, seraya
menenteng pedang yang masih berlumuran
darah. Ia memekik-mekik
pada balatentaranya: “Ayooo, tinggalkan
tempat ini…!!!”
Ia tak menghentikan laju larinya
sampai kemudian beberapa tentaranya
menemukannya sedang meratap
menangis seperti bocah: “Akulah yang
membunuhnya, akulah yang membunuhnya…!”***
130 | Kahlil Gibran
Pesona Jiwa
Pada sebuah istana yang kemilau
yang diselubungi pekat malam yang
menjenterah laksana arak-arakan
sang maut, seorang perempuan tengah
duduk sendiri di atas sebuah
singgasana yang terbuat dari gading.
Kepalanya terkulai dalam sanggahan
tangannya seperti secarik daun layu
di tubuh tangkainya. la merasa tak
ubahnya seorang pesakitan yang tak
Sang Pujaan | 131
lagi menyimpan harapan. la ingin
mendobrak dinding-dinding penjara
dengan tatapan tajamnya, ingin
merangsak keluar dan memasuki
cawan kebebasan.
Waktu pun tents berlalu seperti
setan yang berkelindan dalam jelaga
malam. Sang perempuan berusaha
menghibur dirinya sendiri dengan lelehan
air mata bening nan hangat yang
terbakar oleh rengsa yang menggigit
kesunyiannya. la hanya ingin sejenak
menanggalkan deritanya. Tetapi
pikirannya kian berombak, meneteli
anak-anak kunci yang melindungi rahasia
pikirannya. Kemudian dijamahnya
sebatang pena dan sehelai kertas.
la pun mulai menarikan penanya
dengan mata berurai sembab.
“Saudara-saudaraku terkasih.
Masih adakah yang sanggup dilakukan
seseorang kecuali hanya melolong
dan menangis ketika seuntai jiwanya
kian tidak kuasa menanggung
132 I Kahlil Gibran
hunjaman derita yang sebetulnya sangat
ingin disimpannya rapat-rapat,
namun tanggul matanya telah dibanjiri
air mata dan rongga dadanya telah
remuk-redam oleh gelegar duka
yang mesti ditahan?
Sebagaimana seorang pencinta
yang percaya bahwa mimpi-mimpi
adalah muara penghiburan dan kesenangannya
serta seseorang yang
tertindas yang mencoba melaluinya
dengan menanam harapan dalam irama
belas-kasihan, seperti itu jugalah
sang penderita meyakini lolongan pilu
sebagai ketentraman. Kutuliskan surat
ini kepadamu, lantaran akulah itu
seorang penyair yang telah benar-benar
menjadi saksi atas keagungan semesta
dan mencoba merajutkan
kembali keagungan itu dalam tembang
Tuhan. Akulah itu seorang
kanak-kanak yang merengek minta
suapan karena deru lapar yang menyiksa.
Namun lantaran sudah
Sang Pujaan | 133
sedemikian laparnya, aku pun menjadi
lupa akan kemiskinan, kasih-sayang
bundanya dan kekerdilan hidupnya.
Saudaraku, menangislah untukku
demi kau simak dongeng rengsaku
ini. Tangismu akan menjelma doa dan
air matamu yang penuh kasih-sayang
akan menjadi sedekah yang maha suci
karena terbit dari ketulusan jiwa yang
sangat dalam dan bukannya dari
keangkuhan yang menjijikkan. Ayahandaku
telah mengikatkan perkawinan
di leherku dengan seorang pria
kaya lagi terhormat. Sebagaimana
kebanyakan orang kaya, ayahku
meresapi selembar hidupnya dengan
memproduksi kekayaannya melalui
tumpukan emas di gudang-gudangnya
dan meriasi dirinya dengan keagungan
para terhormat, membentengi
dirinya dari kejamnya zaman. Aku
beserta segenap cinta dan impianku
telah ditumbalkan untuk persembah-
134 I Kahlil Gibran
an lantai emas yang sangat memuakkanku
dan keagungan martabat yang
sangat menjijikkanku.
Tapi, aku tetap menghargai suamiku
karena kutahu dia seorang pria
yang baik dan mulia. Dia berusaha
untuk menerbangkanku ke cakrawala
kebahagiaan dan menganugerahkan
seluruh harta karunnya demi
kepuasan jiwaku. Tetapi cinta sejati
sungguh tiada ternilai dibandingkan
semua pengorbanan itu. Saudaraku,
janganlah engkau mentertawakanku,
sebab kini akulah orang yang paling
mengerti apa yang diharapkan jiwa
perempuan. Getaran jiwa itu tak ada
bedanya dengan sayap burung yang
berkelepak dalam cakrawala cinta.
Sebagaimana piala yang dikebaki
anggur tua yang disuguhkan untuk jiwa
yang kerontang. Serupa dengan sebuah
buku yang setiap halamannya
dipenuhi oleh carut-marut kebahagiaan
dan penderitaan, kesentosaan dan
Sang Pujaan | 135
kenestapaan, senyuman dan tangisan.
Hanyalah sahabat sejati yang terdiri
dari separuh perempuan yang telah
diciptakan dari awal hingga akhir zaman
yang sanggup membaca buku
ini.
Dalam harapan dan impiannya,
akulah orang yang paling memahami
jiwa perempuan. Itu kugapai karena
aku telah mencermati sendiri bagaimana
kereta dan kuda suamiku yang
mengusung semua harta kekayaannya
sebenarnya tak setitik pun memiliki
bandingannya dengan lirikan mata
seorang pemuda kere yang menelan
rengsa dalam penungguannya dan
menghisap duka dalam kesedihan dan
kemelaratannya. Akulah seorang
manusia yang telah menjadi rumbal
obsesi ayahandaku sendiri hingga aku
terbelenggu dalam kubangan derita
penjara kehidupan.
Saudaraku, di tengah gemuruh
prahara yang melumatku, engkau tak
136 | Kahlil Gibran
Sang Pujaan | 137
perlu menghiburku, karena satu-satunya
penghiburanku hanyalah ungkapan
cintaku. Dan darl balik gelombang
air mataku, aku tengah menunggu
kunjungan sang maut yang akan menerbangkanku
ke suatu dunia yang
akan mempertemukanku dengan sejoli
jiwaku, dan aku akan memeluknya
sangat rapat sebagaimana dulu
ketika kami belum terjerembab ke
dalam dunia yang maha asing ini.
Dan engka pun tak layak menistaku,
lantaran aku telah menuntaskan
semua tugas dan tanggungjawabku
sebagai seorang istri yang
baik yang telah dengan sangat bersusah
payah mensujudi semua hukum
dan tradisi para lelaki. Dalam segenap
sadarku, aku telah memuliakan suamiku.
Aku telah menyanjungnya dengan
segenap jiwaku. Namun aku
sama-sekali tak kunjung mampu menyuguhkan
segenap cintaku. Ketahuilah,
ini karena Tuhan sendiri telah
memantapkan cintaku hanya untuk
kekasihku, bahkan sebelum aku mengenalnya
sekalipun.
Langit telah menggariskan bahwa
aku harus menempuh hari-hariku
dalam penguasaan seorang lelaki
yang tidak diciptakan untukku dan
aku telah menjalaninya sesuai dengan
takdir Langit. Namun jikalau pintu
keabadian tak kunjung terkuak, maka
aku beserta sebagian keindahan jiwaku
akan tetap menyatu dan menilai
masa lalu sebagai masa kini. Aku
akan menghargai kehidupan seperti
apa yang dilakukan musim semi
- dalam menghargai musim dingin.
Merenungkan tantangan kehidupan ini
laksana seorang pendaki yang telah
menyeberangi lereng-lereng terjal dan
kini telah mencapai puncak gunungnya.”
Pada bagian inilah, perempuan
itu menghentikan tarian penanya. Di
balik telapak tangannya, ia sembunyi-
138 | Kahlil Gibran
kan setangkup wajahnya. la menangis
penuh pilu. Jiwanya telah mantap
untuk mewariskan rahasianya yang
paling agung kepada pena. Sementara
air matanya telah menguap dan
menyatu dengan cepatnya bersama
embun di tubuh angkasa, di mana jiwa
para pencinta dan bunga bersemayam.
Beberapa selang kemudian, ia
kembali meraih penanya dan melanjutkan
tulisannya:
“Ingatkah engkau pada pemuda
itu? Apakah engkau masih mengingat
pijaran cahaya yang memantul dari
kedua bola matanya, rengsa yang
menjenterai wajahnya serta seutas
senyumannya yang menyerupai air
mata seorang ibu yang kehilangan
anak kesayangannya? Apakah engkau
pun masih menyimpan nada suaranya
yang laksana gemuruh dari lembah
yang maha jauh? Dan apakah
engkau masih pula mengingat bagai-
Sang Puiaan I 139
mana ia melamun, matanya yang
menerawang dan blbirnya yang melafalkan
kata-kata aneh, lantas dia
menundukkan kepalanya sambil melenguh,
seolah-olah serentak jiwanya
menyimpan kecemasan akan terkuaknya
rahasia-rahasia jiwa yang disembunyikannya?
Apakah engkau masih mengingat
mimpi-mimpi dan keyakinan-keyakinannya?
Apakah engkau masih mengingat
semua hal itu yang terpancar
pada diri seorang pemuda yang merupakan
salah seorang putera kemanusiaan,
yang telah dicemoohkan dengan
kejam oleh ayahandaku, lantaran
beliau merasa lebih luhur dari
keagungan bumi dan lebih terhormat
dari kekayaan warisan?
Saudaraku terkasih, tentu engkau
mengerti bahwa sebenarnya aku adalah
bom di dunia yang fana ini dan
hanyalah korban dari sebuah ketololan.
Adakah engkau akan menyim-
140 | Kahlil Gibran
pan iba pada saudaramu yang tercenung
seorang diri di antara kesenyapan
gulita malam yang meraksasa,
yang tengah menuturkan semua isi jiwanya
dan menguakkan rahasia-rahasia
jiwanya kepadamu?
Aku sangat percaya engkau akan
mengasihaniku, sebagaimana kutahu
cinta telah hinggap di ufuk batinmu.”
Ketika fajar berkelindan, perempuan
itu telah terkapar dalam rengkuhan
lelap. la berharap akan menemukan
mimpi-mimpi yang jauh lebih indah
dan bercahaya dari kenyataan
hidup yang ditapakinya sewaktu nanti
ia terjaga.***
Sang Pujaan | 141
Tangis dan Tawa
Tak akan kutukar duka lara hatiku
dengan suka cita manusia. Aku tak
rela bila air mata yang mengucur dari
setiap kesedihan diri menjadi tawa.
Biarlah hidupku berkubang air mata
dan senyuman. Air mata yang
menyucikan hidupku dan membuatku
faham akan rahasia-rahasia hidup
dan misterinya. Senyuman yang
mendekatkanku pada orang-orang
142 | Kahlil Gibran
tercinta serta menjadi lambang pengagunganku
terhadap Tuhan. Air mata
yang memadukanku dengan orangorang
yang patah hati. Senyuman
yang menjadi tanda kebahagiaanku
akan keberadaanku.
Lebih baik aku mati membawa
rindu daripada hidup menanggung
jemu. Ingin kurasakan kelaparan cinta
pada kecuraman jiwaku, karena
aku melihat mereka yang telah puas
adalah manusia paling celaka dan
paling dekat pada mated. Aku mendengar
dan aku menyimak desahan
pencinta yang melebihi merdu rintihan
apa pun. Saat malam menjelang, bunga
melihat daun-daunnya lalu tidur
mendekap rindunya. Manakala pagi
menyambang, ia membuka bibirnya
demi menyambut kecupan sinar matahari.
Kehidupan bunga-bunga adalah
rindu dan pertemuan; air mata
dan senyuman.
Sang Pujaan | 143
144 I Kahlil Gibran
Lautan menguap, membubung,
menggumpal lalu jadilah awan. Melintasi
perbukitan dan lembah-lembah.
Hingga manakala berjumpa semilir
angin lembut, ia menangisi perladangan,
bercucuran. Lalu menyatu bersama
bengawan, kembali ke lautan:
tanah airnya. Kehidupan awan-gemawan
adalah perpisahan dan pertemuan;
air mata dan senyuman.
Demikianlah jiwa terpisah dari
roh yang umum, berjalan di alam
materi dan berlalu seperti awan di atas
pegunungan duka cita serta pedataran
sukaria hingga bertemulah angin
sepoi kematian lalu pulanglah ia ke
tempat ia berasal, ke lautan cinta dan
keindahan; menuju Tuhan.***
Terhina
Karena Dunia
Hei orang yang lahir di atas buaian
derita, di asuh di atas pakaian kesusahan,
menjadi besar dalam rumah-
rumah kesewenang-wenangan,
kamulah yang akan memakan rotimu
yang kering karena tarikan nafas panjang
dan meminum airmu yang bercampur
dengan air mata dan kesedihan.
Hei tentara yang menetapkan
Sang Pujaan | 145
aturan-aturan manusia yang zalim
hendaknya meninggalkan teman perempuannya
dan anak-anak kecil serta
orang yang dicintainya dan hendaknya
pergi ke medan perang dan demi
menunaikan kewajiban yang dibebankan
kepadanya.
Hei penyair yang hidup dengan
cara aneh di tanah kelahirannya dan
yang tertutup di antara pemuka-pemukanya
dan rela hidup dengan segumpal
tanah dan rela membagi roti
bersama daun-daun.
Hei yang terpenjara dan terlempar
dalam kegelapan karena dosa
kecil yang dipaksakan oleh yartg
durhaka yang membalas kejahatan
dengan kejahatan dan yang telah
dibenamkan oleh orang yang paling
berakal yang melontarkan perbaikan
di tengah-tengah kerusakan.
Dan kamu hei perempuan miskin
yang telah diberi Tuhan kecantikan
yang dilirik oleh pemuda cerdik lalu
146 | Kahlil Gibran
dia mengikutimu lalu dia melengahkanmu
dan mengganti kemiskinanmu
dengan emas yang karena itu kamu
serahkan dirimu kepadanya lalu dia
meninggalkanmu dalam keadaan ketakutan
sehingga kamu menjadi
gemetaran di depan cakar-cakar kehinaan
dan kesengsaraan.
Hei kalian orang yang menyayangi
orang yang lemah, kalian adalah
pejuang-pejuang aturan hidup
manusia, kalian menderita dan yang
membuat kalian menderita adalah
hasil kejahatan orang kuat dan dosa
para hakim dalam kelaliman orang
kaya serta kebejatan hamba syahwat
nafsu angkara.
Janganlah kalian putus asa, karena
ada orang-orang yang zalim terhadap
alam, ada orang di balik sesualu,
ada orang di balik mendung,
ada orang di balik debu kekacauan,
ada orang di balik segala sesuatu,
yang kuat itu adalah Dia segala keadil-
Sang Pujaan | 147
an, segala kasih sayang, segala rindu
dan segala cinta.
Kalian seperti bunga-bunga yang
tumbuh dalam bayang-bayang. Angin
sepoi akan berhembus dan membawa
benih-benih kalian menuju cahaya
matahari sehingga kalian hidup di
sana dengan kehidupan yang indah
lagi menyenangkan.
Kalian adalah orang-orang yang
memandangi pohon-pohon yang gundul
yang tertutupi oleh salju musim
dingin. Musim semi akan datang
dan dan akan menutupi kalian dengan
daun-daun hijau yang lebat.
Kenyataan akan merobek-robek
penutup air mata yang menghapus
senyum kalian.
Aku akan menerima kalian wahai
saudara-saudaraku dan aku akan
mengolok-olok orang yang menganiaya
kalian.***
148 | Kahlil Gibran

1 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites